KUDUS (lingkarjateng.id) – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus kembali menghadirkan inovasi layanan kesehatan. Inovasi yang terbaru kali ini, DKK Kudus menghadirkan layanan Screening Mediscan Face (SMECE).
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, dr. Mustiko Wibowo menjelaskan, SMECE merupakan layanan kesehatan untuk membantu warga yang ingin melakukan screening kesehatan. Uniknya, layanan ini menggunakan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan.
“Ini merupakan inovasi layanan screening kesehatan pertama yang menggunakan AI di Indonesia, baru ada di Kudus. Kami belum menemukan ada di daerah lain,” kata dr. Mustiko.
Ada enam pemeriksaan pada sistem SMECE, yakni kondisi psikologis, tekanan darah, nadi, suhu, respiratory rate dan saturasi oksigen.
Mustiko mengatakan, layanan SMECE saat ini baru diterapkan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Colo, Desa Colo, Kecamatan Dawe. Namun, Ia menyebut bahwa kedepannya layanan ini diharapkan bisa diterapkan di puskesmas-puskesmas lainnya yang ada di Kabupaten Kudus.
“Saat ini memang baru kami terapkan di Pustu Colo. Tapi kedepannya harapan kami bisa diterapkan juga di puskesmas lain,” ujarnya.
Dia menerangkan, melalui layanan SMECE, proses screening kesehatan bisa dilakukan lebih cepat dan mudah. Pasalnya, layanan ini cukup mengandalkan face camera dan mendeteksi suara, lalu secara otomatis akan keluar hasil analisis kondisi kesehatan pasien.
“Cara kerjanya, pasien diminta untuk memasukkan data awal terlebih dulu. Setelah data masuk, pasien bisa mengarahkan wajah ke kamera dan berbicara apa saja selama 45 detik,” terang dia.
Kemudian, teknologi SMECE akan memproses ucapan pasien melalui sensor suara untuk mendiagnosa kondisi psikologisnya.
“Setelah itu langsung diproses sehingga memunculkan hasil uji sederhana, pasien akan ketahuan risiko penyakitnya seperti stroke, kardiovaskular dan lainnya,” jelasnya.
Hasil diagnosa awal tersebut, lanjut Mustiko, nantinya bisa membantu dokter untuk melakukan pencegahan lebih awal terhadap risiko penyakit yang diderita.
“Penanganannya jadi lebih cepat, pasien berbicara apa saja, kemudian AI yang menilai karakter, kepribadian dan tingkat stres pasien,” pungkasnya.
Jurnalis : NISA HAFIZHOTUS SYARIFA
Editor : Fian































