REMBANG, Lingkarjateng.id – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang gelar kegiatan literasi sejarah, “Bedah Buku Trilogi Kartini”, Kamis, 26 Juni 2025.
Kegiatan yang diselenggarakan di Pendopo Museum RA Kartini Rembang ini, menghadirkan Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegoro, penulis dan penyusun buku Trilogi Kartini; Nabila Ihza Nur Muttaqi, Dosen Fakultas Hukum Universitas Negeri Yogyakarta sebagai pengulas buku; dan M. Nilzam Aly, Dosen Program Studi Destinasi Pariwisata Universitas Airlangga, sebagai moderator.
Diskusi biografi RA Kartini ini dihadiri oleh sejumlah peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, pelajar, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah SMA/SMK, Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Rembang, sejarawan, komunitas museum, serta sejumlah perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Kepala Dinbudpar Kabupaten Rembang, Muttaqin berharap dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan daya ungkit terhadap destinasi pariwisata, mengingat RA. Kartini adalah salah satu ikon Rembang.
“Dengan munculnya informasi Kartini ini, semakin banyak dan semakin membahana, harapannya dapat meningkatkan kunjungan wisata di Rembang, karena kita punya museum dan makam RA Kartini,” ungkapnya.
Dalam kegiatan ini juga terdapat penayangan video sambutan Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, atas peluncuran buku Trilogi Kartini.
Sri Mulyani menyampaikan Trilogi Kartini karya Bapak Wardiman Djoyonegoro merupakan sebuah upaya yang patut dihargai, karena itu merupakan upaya dan dedikasi Wardiman untuk terus melakukan dan menulis karya-karya yang bermanfaat bagi Republik.
Trilogi ini adalah kumpulan buku dan sebuah perjalanan yang sangat mendalam yang mengajak kita semua untuk lebih mengenal dan lebih memahami sosok Raden Ajeng Kartini.
“Tidak hanya sebuah fenomena pemikiran yang jauh maju dari zamannya. Seorang tokoh bangsa perempuan Indonesia namun memiliki pemikiran yang sungguh luar biasa bahkan bisa disebut jenius dan abadi,” katanya.
Sementara sebelum memulai diskusi buku, Wardiman bercerita bahwa Kartini merupakan anak seorang bupati yang memiliki kesempatan belajar di sekolah Belanda. Namun, sejak umur 12,5 tahun, Kartini terkungkung oleh adat yang memaksanya untuk dipingit. Meski begitu, Ayah RA Kartini sudah memiliki pemikiran yang maju sehingga banyak memberikan buku kepada Kartini. Dengan buku-bukunya, Kartini belajar bahasa Belanda secara otodidak dan mulai menulis.
“Jadi dia membuat iklan di Belanda ‘siapa yang ingin menjadi sahabat penanya’ supaya apa? supaya dia bisa menuangkan pikirannya dalam bahasa Belanda yang beliau kuasai. dan dijawab oleh sahabat pena pertama yang bernama Estella,” kata Pak Wardiman.
Jurnalis: Muhammad Faalih
Editor: Sekar S






























