KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang, Joko Sriyono, angkat bicara soal dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang menimpa 20 siswa SDN Ungaran 01, Ungaran Barat. Ia langsung meninjau kondisi siswa dan memeriksa menu MBG yang disajikan oleh salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Ungaran Timur.
“Coba lihat, apakah menu ini memenuhi unsur gizi? Kan tidak. Gizi dari mana?” kata Joko saat menunjukkan ompreng berisi makanan kepada awak media.
Joko menilai, kejadian ini menjadi peringatan penting bagi pelaksanaan program MBG di Kabupaten Semarang. Ia mendorong evaluasi menyeluruh, terutama terhadap kapasitas dan prosedur di dapur SPPG.
“Dapur SPPG sebaiknya tidak melayani 3.000 hingga 3.500 siswa. Kalau seperti ini, sudah pasti masaknya di jam 01.00 atau mulai jam 02.00 WIB, dan di packing di suhu lebih dari 60 derajat pasti di dalam ompreng ini,” jelasnya.
Menurutnya, makanan seharusnya dikemas dalam suhu di bawah 50°C agar lebih awet. Ia juga menyoroti daya tahan tubuh anak yang berbeda-beda, sehingga standar keamanan makanan harus lebih ketat.
Joko juga menilai komposisi menu pada hari kejadian kurang layak.
“Memang ada proteinnya, ada pada rendang daging dan tahu bulat, lalu ada sayurnya meski ini tidak layak di makan ini sayur pokcoy-nya,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan dalam satu SPPG harusnya ada seorang ahli teknologi pangan yang bertugas.
“Termasuknya juga bagus lagi kalau ada dapur yang memiliki ahli masak atau chef, kalau hal itu juga tidak diperhatikan maka ya kejadian seperti ini akan bisa dan terus terulang, seperti menunggu bom waktu, sekolah mana lagi yang keracunan,” tegasnya.
Sedangkan menu MBG saat kejadian terdiri dari nasi putih, rendang daging, tahu bulat, tumis pokcoy, dan puding buah.
“Puding buahnya ini diterima dan dikonsumsi anak-anak sudah dalam keadaan berair, berbusa, bahkan sudah berbau asam, sudah tidak layak konsumsi,” pungkas Joko.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Sekar S





























