SEMARANG, Lingkarjateng.id – Dinas Pemdam Kebakaran Kota Semarang mengeluhkan puluhan hidran yang tidak berfungsi optimal. Pasalnya, sepanjang 2025 tercatat 275 peristiwa kebakaran melanda Ibu Kota Jawa Tengah. Terlebih kebakaran sering terjadi di pemukiman padat dan gang sempit.
Damkar Kota Semarang mencatat dari total 79 titik hidran yang tersebar di berbagai wilayah, hanya 10 hidran yang benar-benar berfungsi.
Sekretaris Damkar Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan mengaku prihatin atas kondisi tersebut. Menurutnya, keberadaan hidran sangat menentukan kecepatan pemadaman kebakaran.
“Dari 79 titik hidran yang tercatat, sekitar 61 masih terlihat fisiknya, tetapi yang berfungsi hanya 10, Sementara hidran yang fisiknya tidak terlihat, belum diketahui apakah rusak atau sudah hilang,” ujarnya, Minggu, 4 Januari 2025.
Ia menjelaskan, tim Damkar telah melakukan penelusuran dari titik hidran hingga radius sekitar 20 meter, namun tidak menemukan keberadaannya.
Beberapa warga juga melaporkan, hidran hanya tersisa bagian atasnya saja, sementara sebagian lainnya diduga telah tertutup oleh pembangunan infrastruktur.
Selain itu, Ade mengatakan dengan luas wilayah mencapai 373,70 kilometer persegi, jumlah 79 titik hidran dinilai masih sangat minim untuk menjamin penanganan kebakaran yang cepat dan efektif.
Ia menyebut, kondisi ini membuat Damkar harus bekerja ekstra saat terjadi kebakaran. Dirinya mencontohkan di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Gunungpati dan Mijen, tidak terdapat satu pun titik hidran.
Ade pun mendorong agar aset-aset pemerintah, seperti kantor kelurahan dilengkapi dengan tandon air guna mendukung operasional pemadaman kebakaran sekaligus kebutuhan fasilitas publik.
Ade juga mencontohkan Kota Surabaya telah beralih dari sistem hidran ke tandon air dengan lebih dari 400 titik yang seluruhnya aktif. Selain itu, Damkar Surabaya tidak dikenakan biaya penggunaan air saat melakukan pemadaman.
“Harapan kami, penggunaan air untuk pemadaman bisa digratiskan seperti di Surabaya. Ini hasil studi banding kami dan sudah kami sampaikan kepada Wali Kota Semarang,” jelasnya.
Damkar juga menyoroti keberadaan hidran yang tertutup cor di Jalan Majapahit, Kecamatan Pedurungan, yang ditemukan pada akhir 2025.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan kurangnya perhatian terhadap fasilitas vital penanggulangan kebakaran.
Sepanjang 2025, Damkar Kota Semarang mencatat 275 peristiwa kebakaran. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 341 kejadian.
“Kami akan mengundang PDAM untuk melakukan sinkronisasi terkait permasalahan hidran ini. Sebab, Damkar tidak bisa bekerja tanpa ketersediaan sumber air,” tuturnya.
Jurnalis: Rizky Syahrul
Editor: Sekar S






























