JEPARA, Lingkarjateng.id – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Jepara dalam beberapa waktu terakhir mengakibatkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan, bahkan sebagian di antaranya roboh. Hujan deras yang terjadi secara terus-menerus memicu kerusakan bangunan, terutama rumah-rumah lama yang kondisinya sudah rapuh.
Salah satu warga terdampak adalah Sholekah (47), warga RT 5/RW 1 Desa Welahan, Kecamatan Welahan. Rumah yang telah ditempatinya sejak kecil itu mengalami kerusakan berat setelah diguyur hujan deras selama tiga hari berturut-turut. Atap bangunan ambruk, disusul runtuhnya tembok rumah yang telah lapuk. Rumah tersebut dihuni lima anggota keluarga.
“Genteng runtuh semua, lalu temboknya ikut roboh. Bangunannya memang sudah lama,” kata Sholekah, Rabu, 28 Januari 2026.
Pasca-kejadian, Sholekah dan keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang berada di seberang rumahnya. Kondisi tersebut mulai teratasi setelah ia menerima bantuan rehabilitasi rumah melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemerintah Kabupaten Jepara.
Bantuan rehabilitasi tersebut bersumber dari anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dengan nilai maksimal Rp15 juta per unit, disesuaikan dengan tingkat kerusakan bangunan masing-masing penerima.
“Saya sangat bersyukur. Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” ungkapnya.
Pada tahap penyaluran ini, Sholekah menjadi satu dari 24 warga yang menerima bantuan perbaikan RTLH melalui BTT. Secara keseluruhan, tercatat 54 rumah di Kabupaten Jepara mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem dan akan ditangani secara bertahap oleh pemerintah daerah.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan penyaluran bantuan dilakukan setelah melalui proses pendataan dan verifikasi lapangan. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk respons cepat pemerintah daerah terhadap warga terdampak bencana.
“Karena ini dampak bencana, maka kami gunakan anggaran BTT. Tahap ini ada 24 penerima di wilayah Welahan, Nalumsari, Kedung, dan Batealit,” ujar bupati yang akrab disapa Mas Wiwit.
Ia menegaskan, nilai bantuan yang diberikan tidak diseragamkan, melainkan disesuaikan dengan tingkat kerusakan rumah masing-masing warga.
Wakil Bupati Jepara, M. Ibnu Hajar, turut mendampingi penyerahan bantuan tersebut. Dalam kesempatan yang sama, ia melakukan peletakan batu pertama pembangunan rumah warga di Desa Bringin, Kecamatan Batealit.
“Bismillahirrahmanirrahim, semoga proses pembangunan berjalan lancar dan rumahnya nanti menjadi tempat tinggal yang aman dan layak,” ucap Gus Hajar.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Jepara, Moh. Eko Udyyono, menjelaskan khusus wilayah selatan Jepara, total anggaran BTT yang dialokasikan mencapai Rp119,5 juta. Adapun rumah-rumah terdampak di wilayah utara mendapatkan dukungan pendanaan dari organisasi kemasyarakatan, salah satunya Ansor.
“Bantuan diberikan dalam bentuk material bangunan, bukan uang tunai. Penyaluran dilakukan secara nontunai melalui Bank Jateng langsung ke toko material sesuai RAB,” jelas Eko.
Ia menambahkan, penentuan toko material dilakukan melalui musyawarah antara penerima bantuan, pemerintah desa, dan pihak kecamatan. Proses rehabilitasi juga melibatkan swadaya masyarakat serta dukungan lintas sektor, seperti Baznas, PMI, dan berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya.
Adapun rincian penerima bantuan pada tahap ini meliputi dua warga di Kecamatan Welahan, sembilan warga di Kecamatan Nalumsari, enam warga di Kecamatan Kedung, dan tujuh warga di Kecamatan Batealit.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Rosyid
































