SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) akan melakukan evaluasi seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Kendal dan Blora buntut kasus keracunan massal yang menimpa siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen yang akrab disapa Gus Yasin, mengatakan pihaknya telah meminta seluruh tim terkait melakukan asesmen lapangan untuk memastikan standar pengolahan hingga distribusi makanan berjalan sesuai ketentuan.
“Untuk SPPG yang keracunan kita akan meninjau, nanti kita evaluasi. Kita asesmen dari teman-teman tim kesehatan, tim percepatan MBG, nanti akan kita evaluasi semuanya,” ujarnya di Semarang, Sabtu, 29 November 2025.
Terkait kasus di SMPN 1 Blora, Gus Yasin menyebut masih menunggu laporan resmi terkait dugaan penyebab keracunan.
“Kami belum mendapat laporan terkait dugaan penyebab keracunan di SMPN 1 Blora. Nanti setelah dapat laporan akan disampaikan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa hampir seribu SPPG saat ini beroperasi di seluruh Jawa Tengah. Jumlah tersebut menunjukkan cakupan layanan MBG yang luas, namun juga memerlukan pengawasan ketat agar kualitas makanan tetap terjamin.
“Sudah hampir seribu SPPG yang berjalan. Ini tentu membutuhkan kontrol yang baik agar kualitas makanannya tetap terjamin,” imbuhnya.
Kasus keracunan di Blora terjadi pada Rabu, 26 November 2025, ketika 204 siswa SMPN 1 Blora mengalami gejala seperti diare usai mengonsumsi menu MBG.
Dari jumlah itu, 198 siswa mengalami diare dan enam lainnya menunjukkan gejala serupa. Sejumlah siswa bahkan harus mendapatkan perawatan medis.
Buntut kasus keracunan massal tersebut, Pemerintah Kabupaten Blora menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).
Pada hari yang sama di Kabupaten Kendal, 17 siswa SMPN 1 Kendal juga mengalami dugaan keracunan setelah menyantap makanan MBG pada hari yang sama.
Sepuluh siswa mendapat penanganan di IGD RSUD Soewondo Kendal, lima siswa dirawat di Puskesmas Kendal, sementara dua lainnya menjalani perawatan di rumah karena gejalanya ringan.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid






























