Trauma Longsor, Warga Semarang Desak Selesaikan Pembangunan Tanggul Secepatnya

Rawan Longsor

BAHAYA: Kondisi rumah Tugiati di RT 05 RW 03 Tegalsari, Kecamatan Candisari rentan longsor karena langsung menghadap ke jurang. (Dinda Rahmasari / Lingkarjateng.id)

SEMARANG, Lingkarjateng.id – Intensitas hujan yang kian meningkat membuat masyarakat semakin was-was jika terjadi bencana seperti banjir maupun tanah longsor. Nampaknya, trauma longsor telah membekas di hati warga desa Tegalsari, Kecamatan Candisari, Semarang. Oleh karena itu, mereka mendesak pemerintah untuk bisa menyelesaikan pembangunan tanggul secepatnya.

Hal ini seperti diungkapkan Ana, warga RT 05 RW 03 Tegalsari, Kecamatan Candisari, Semarang. Ia dan keluarganya lebih memilih untuk mengungsi ke rumah kerabat saat musim penghujan tiba. Hal itu dilakukan lantaran Februari lalu pihaknya menjadi korban tanah longsor.

BPBD Grobogan Latih Mitigasi Bencana untuk Awak Media

“Kalau hujan saya lebih milih ngungsi di rumah tetangga atau saudara yang daerahnya lebih aman, karena masih takut kalau kejadian Februari lalu terulang lagi,” ujar Ana saat ditemui di rumahnya, Senin (22/11).

Meskipun tanggul sudah dibangun, namun Ana mengaku masih trauma dengan kejadian tersebut. Menurutnya, pembangunannya hingga kini masih belum tuntas dan masih ada sedikit bekas longsoran yang belum dibangun tanggul.

“Sudah dibangunkan tanggul setelah kejadian longsor itu. Tapi pembangunannya tidak tuntas, jadi masih cemas. Katanya akan segera dibangun diselesaikan, tapi sampai saat ini belum ada kabar lagi,” jelasnya.

Inilah 5 Daerah di Jepara yang Rawan Bencana

Ana berharap, pembangunan tanggul tersebut bisa segera diselesaikan. Mengingat, sudah terjadi banjir dan tanah longsor di beberapa titik di Kota Semarang saat hujan deras mengguyur. 

Sementara warga lain yang juga menjadi korban longsor, Tugiati (61) mengatakan, pada saat kejadian tanah longsor Februari lalu, dua kendaraan motornya terkubur tanah longsor. Senada dengan Ana, Tugiati juga masih trauma dengan kejadian tersebut. Terlebih, musim hujan belakangan ini intensitasnya sangat tinggi dengan durasi lama.

“Sampai saat ini masih cemas, kalau malam susah tidur, apalagi kalau saat hujan. Hanya doa yang bisa saya panjatkan,” terangnya.

Lebih lanjut, Tugiati menjelaskan, sebelum terjadi longsor, ada jalan kecil di depan rumahnya yang bisa dilewati sepeda motor. Namun, kondisi rumahnya kini langsung berhadapan dengan jurang.

Menurutnya hal tersebut tentunya sangat berbahaya terlebih untuk anak-anak. Jika sedang hujan jalanan tersebut akan sangat licin ketika dilewati. “Dulu halaman rumah ini lumayan lebar, sekarang jadi sempit mengarah ke jurang langsung. Ini kan sangat berbahaya,” pungkasnya. (Lingkar Network | Koran Lingkar Jateng)