15 Hari Banjir Belum Surut, Para Petani Pati Terancam Merugi

15 Hari Banjir Belum Surut, Para Petani Pati Terancam Merugi

TERENDAM: Banjir yang berada di salah satu sawah di tepian jalan kecamatan Jakenan

PATI – Lingkarjateng.id , Sejauh ini sejumlah sawah di Kabupaten Pati masih terendam banjir. Diantaranya, persawahan  yang berada di daerah Kecamatan Jakenan. 

Sunhadi, salah satu petani di Desa Tondomulyo, Jakenan masih merasakan dampak tersebut. Ia mengaku ketinggian air sampai sejauh ini masih sekitar satu meter. Ia menerangkan sudah selama 15 hari air belum juga surut. 

“Untuk hari ini semua sawah tenggelam. Belum surut, cuma agak. Karena Kami ada ditaran yang paling rendah sehingga air dari atas itu sudah turun masuk ke daerah saya. Sedangkan di daerah saya itu menunggu air yang berada di Silugonggo,” ujarnya, Rabu (1/12). 

Menurutnya, air tak kunjung surut disebabkan aliran air yang tidak lancar. Pasalnya sungai yang ada di sana dipenuhi sejumlah kapal yang menurut Sunhadi sebagai penghambat aliran air.

10 Kecamatan di Kabupaten Pati Terendam Banjir

“Sampai sekarang baru turun ke kali agak pelan-pelan belum begitu cepat,” katanya. 

Lelaki yang juga Koordinator masyarakat peduli sungai Juwana itu juga menyebutkan , Di desanya sendiri setidaknya ada 210 hektare sawah yang terendam. “Belum daerah yang ada di sekitar Tondo Mulyo, seperti Bungasrejo, Karangrowo, Ngastorejo yang ada sepanjang kali Juwana ini,” ungkapnya.

Sunhadi memperkirakan kerugian yang dialami petani per hektarnya bisa mencapai Rp 10 Juta. Karena sampai saat ini umur tanaman padi sudah berumur kisaran 1 bulan. 

“Kerugian per tahun pengolahan lahan pertama masih umur 1 bulan setengah kurang lebih satu hektar Rp 10 jutaan. Mulai tanam bibit pengolahan, pupuk, matun dan sebagainya. Jelas gak bisa diharapkan hasil panennya. Ini sudah tenggelam beberapa hari. Diatas satu minggu. Bisa busuk,” ujarnya. 

Sunhadi sendiri berharap pemerintah memperhatikan aliran sungai yang ada. Terutama sejumlah kapal yang parkir di sana yang menyebabkan tersumbatnya air. 

“Saya berharap pemerintah bisa memperhatikan petani di sepanjang kali Juwana. Jangan mementingkan pemodal yang besar. Kapal-kapal besar itu disandarkan di aliran sungai harusnya punya sendiri. Ya dari tahun ke tahun tetap begitu. Tapi pemerintah belum ada respon terkait daerah aliran sungai itu, tutupnya (Lingkar Network | Koran Lingkar Jateng)