Angka HIV/AIDS 2021 di Kudus Alami Penurunan

DKK KUDUS

INFORMATIF: Kasi P2PM DKK Kudus Nuryanto sedang memberikan penjelasan terkait kasus HIV AIDS di wilayah setempat. (Nisa Hafizhotus Syarifa / Lingkarjateng.id)

KUDUS, Lingkarjateng.id – Jumlah kasus penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS) di Kabupaten Kudus mengalami penurunan pada tahun 2021, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencatat, dari Januari-September 2021 ada 88 kasus AIDS di wilayah setempat. Sementara pada tahun 2019 total ada 154 kasus AIDS. Sedangkan pada tahun 2020 lalu ada 123 orang yang terkonfirmasi mengidap AIDS. 

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) DKK Kudus Nuryanto mengatakan, penyakit ini disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penyakit ini menyerang antibodi seseorang yang menyebabkan mudah terserang penyakit lainnya. 

Ia menuturkan, kasus AIDS yang terjadi di Kudus tahun ini didominasi oleh laki-laki. “Berdasarkan data DKK Kudus jumlah laki-laki yang mengidap AIDS ada sebanyak 59 orang. Kalau yang perempuan ada sebanyak 29 orang,” bebernya. 

Terus Bertambah, 67 Warga Blora Meninggal karena HIV/AIDS

Menurut Nuryanto, kasus AIDS didominasi oleh laki-laki karena dianggap sering bergonta-ganti pasangan. Akibatnya, lanjut dia, laki-laki yang suka ‘jajan’ tersebut akan rentan terpapar virus HIV. 

Ia menjelaskan, beberapa gejala penyakit AIDS  ini diantaranya yaitu mengalami diare yang tidak kunjung sembuh, sariawan berkepanjangan sampai terjadi penurunan berat badan yang ekstrim. Oleh karena itu, para pengidap AIDS diminta untuk sering mengontrol kesehatan badannya. 

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa mayoritas pengidap AIDS di Kabupaten Kudus kerap terlambat mengetahui bahwa mereka terjangkit penyakit dari virus HIV tersebut. “Mayoritas itu sering terlambat untuk check-up ke puskesmas atau rumah sakit. Ketika sudah lima tahun atau sepuluh tahun baru diketahui kalau dirinya mengidap AIDS,” terangnya.

Nuryanto melanjutkan, kebanyakan dari pengidap AIDS enggan periksa karena takut dengan stigma masyarakat. Alhasil, tak banyak dari mereka yang mau memeriksakan diri untuk memastikan kondisi badannya. 

“Kebanyakan takut dengan stigma masyarakat sehingga tidak mau memeriksakan dirinya. Jadi kami mengimbau masyarakat jangan malu untuk skrining HIV/AIDS di puskesmas maupun rumah sakit terdekat,” pungkasnya. (Lingkar Network | Koran Lingkar Jateng)