KENDAL, Lingkarjateng.id – Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kendal Pandu Rapriat Ronggojati menyatakan masih rutin memonitoring kondisi lahan persawahan di Kabupaten Kendal yang terdampak banjir. Pasalnya, apabila dalam sepekan ke depan banjir tidak surut maka petani terancam gagal panen.
“Ya harapan kami tidak belama-lama, bisa surutlah. Karena kalau seminggu ke depan masih ada genangan, bisa jadi nanti busuk dan tidak jadi panen dan mereka nanti harus tanam ulang,” ujar Pandu di Kendal, Senin, 8 Januari 2024.
Ia menyebut, pihaknya intensif melaksanakan pengamatan di beberapa wilayah lahan pertanian yang terdampak banjir seperti di Kecamatan Kendal, Brangsong, Cepiring, Kangkung, Rowosari, hingga Patebon.
“Setiap harinya kami banyak laporan yang masuk tingkat kesurutannya sampai berapa persen dibandingkan dengan pertama kali tergenang,” ucapnya.
Pandu menjelaskan, ada beberapa upaya yang dilakukan para kelompok tani dalam menangani banjir. Seperti di sebagian wilayah yang memiliki pompa air melakukan penyedotan untuk mengurangi dampak banjir terhadap tanaman padi.
“Mereka berupaya untuk melakukan penyedotan untuk membuang air dan yang tidak ada ya hanya membuka saluran saja untuk membersihkan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pandu mengingatkan petani untuk selalu bersiap menghadapi banjir tahunan yang biasa melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal.
“Ini ‘kan semacam bencana tahunan. Jadi petani untuk mempersiapkan diri, terutama untuk kebersihan saluran irigasi, sampah-sampah yang menyumbat harus dibersihkan,” pintanya.
Sementara itu, Edi Widiharta salah seorang petani di Desa Balok, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal mengaku, tanaman padi miliknya sempat tergenang namun tidak terlalu dalam, hanya sekitar 10 sentimeter.
“Sempat tergenang tapi hanya sedikit sekitar 10 sentimeter, karena di sini ‘kan langganan banjir. Kalau dulu itu sampai satu meter,” kata Edi.
Demi mengurangi dampak banjir, ia membuat sebuah tanggul dan juga memanfaatkan alat sedot air sehingga sampai saat ini tidak ada padi miliknya yang rusak.
“Dengan begitu, bisa membuang air yang menggenang di lahan saya,” imbuhnya. (Lingkar Network | Arvian Maulana – Lingkarjateng.id)