BLORA, Lingkarjateng.id – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana mengungkapkan penyebab terjadinya fenomena tanah ambles di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora.
Pelaksana Teknis BBWS Pemali Juana, Agus Yanto, mengatakan fenomena tersebut dipicu kondisi tanah labil dan meningkatnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Agus mengatakan timnya telah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah titik terdampak guna mengidentifikasi faktor penyebab pergerakan tanah.
Peninjauan tersebut meliputi pengecekan sistem drainase, aliran sungai, kondisi lereng, hingga infrastruktur di sekitar lokasi kejadian.
“Tanah gerak berpotensi, dipicu kondisi tanah yang labil dan meningkatnya debit air akibat hujan. Hasil peninjauan ini akan menjadi dasar rekomendasi penanganan,” ucap Agus saat peninjauan di Desa Buluroto, Senin, 1 Januari 2026.
Menurutnya, pergerakan tanah di wilayah tersebut menyebabkan penurunan permukaan tanah dengan kedalaman bervariasi antara 40 hingga 50 centimeter. Dampaknya dirasakan langsung oleh warga karena mengganggu permukiman serta akses jalan di sekitar lokasi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora, Surat, menambahkan pihaknya bersama BBWS Pemali Juana telah melakukan pengukuran teknis di lokasi tanah ambles di Desa Buluroto.
“Hasil pengecekan menemukan puluhan titik yang memerlukan penanganan lebih lanjut,” kata Surat.
Peristiwa pergerakan tanah di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, tercatat terjadi pada Senin, 22 Desember 2025. Penurunan tanah di lokasi tersebut mencapai 50 hingga 70 centimeter dengan panjang rekahan sekitar 200 meter, yang mengakibatkan tiga rumah warga mengalami kerusakan sedang, masing-masing milik Sriyono, Janarto, dan Sayid.
Selain Buluroto, kejadian serupa juga terjadi di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, pada Jumat, 2 Januari 2026. Di lokasi tersebut, tanah ambles sedalam 15 hingga 30 centimeter dengan panjang rekahan sekitar 100 meter.
Dua rumah warga dilaporkan rusak sedang, yakni milik Djaiz dan Suyatno, sementara tiga rumah lainnya berada dalam kondisi terancam.
Sebagai langkah penanganan awal, Surat menyebut pemerintah daerah bersama BBWS Pemali Juana merencanakan pembangunan bronjong atau turap di tepi sungai serta perbaikan sistem drainase untuk mengendalikan aliran air agar tidak meresap ke zona patahan tanah.
“Penanganan awal difokuskan pada pengendalian aliran dan rembesan air tanah sepanjang sekitar 30 meter,” ujarnya.
Surat menyebut kebutuhan anggaran penanganan tanah ambles tersebut diperkirakan mencapai Rp400 juta dan akan dilakukan secara bertahap sambil menunggu hasil kajian teknis lanjutan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Blora, Mulyowati, mengungkapkan keterbatasan anggaran kebencanaan daerah menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan bencana tanah ambles di wilayah tersebut.
“Kami terus berupaya mencari solusi dan terobosan pendanaan, termasuk pengajuan bantuan ke pemerintah pusat,” ujarnya.
Jurnalis: Ant
Editor: Rosyid
































