SEMARANG, Lingkarjateng.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang menyebut tanah longsor menjadi kejadian bencana tertinggi di awal 2026.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, mengatakan hingga Rabu, 28 Januari 2026, tanah longsor di wilayah setempat telah terjadi sebanyak 32 kali.
“Jadi sampai saat ini tanah longsor atau tanah amblas ini masih menjadi yang tertinggi,” katanya.
Endro menyebut banyaknya peristiwa tanah longsor dikarenakan beberapa kontur wilayah di Kota Semarang masih berupa perbukitan dan padat pemukiman, serta ditambah curah hujan yang tinggi.
Selain tanah longsor, Endro mengatakan bencana banjir menjadi kasus tertinggi kedua yang terjadi sebanyak 12 kali.
“Terakhir wilayah yang kemarin masih banjir ada di Kudu, Kecamatan Genuk, itu karena ikut saluran Sayung, airnya jadi sulit surut,” katanya.
Sedangkan angin puting beliung tercatat sebanyak dua kali dan kebakaran sebanyak satu kali. Adapun akibat dari akumulasi bencana hidrometeorologi di awal 2026, tercatat 879 rumah dan 851 KK terdampak.
Dengan adanya situasi potensi cuaca ekstrem ini, Endro mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap bencana.
“Mengidentifikasi tempat- tempat yang rawan bencana, dan segera koordinasi dengan RT/RW kelurahan, dan kecamatan serta dinas terkait,” ujarnya.
Ia juga meminta warga waspada terhadap potensi banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor.
“Juga waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon tumbang maupun baliho roboh,” katanya.
Berdasarkan data BMKG, cuaca ekstrem diperkirakan masih akan terjadi hingga Februari mendatang.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid































