Stop! 5 Kebiasaan Sepele Ini Bisa Rusak Kesehatan Mata

ILUSTRASI: Seorang anak perempuan membaca buku dalam posisi berbaring terlentang. (Freepik @seventyfour/Lingkarjateng.id)

ILUSTRASI: Seorang anak perempuan membaca buku dalam posisi berbaring terlentang. (Freepik @seventyfour/Lingkarjateng.id)

Lingkarjateng.id – Mata adalah organ penting manusia yang berfungsi sebagai indra penglihatan, oleh sebab itu menjaga kesehatan mata tidak boleh disepelekan. Apalagi aktivitas harian sejak pandemi Covid-19 mengharuskan masyarakat untuk lebih sering menggunakan gawai. Hal ini, jika berlangsung lama akan menimbulkan gangguan kesehatan mata.

Menjaga kesehatan mata bisa dimulai dengan merubah kebiasaan buruk yang dapat merusak penglihatan. Banyak sekali kebiasaan sepele yang secara tidak sadar ternyata dapat mengganggu hingga merusak indra penglihatan ini.

Mengucek mata

Saat mata terasa gatal, secara reflek orang akan menggunakan tangan untuk mengucek mata. Hal ini cukup berbahaya jika tangan dalam keadaan kotor, sebab telapak tangan merupakan bagian tubuh yang paling sering menyentuh benda asing baik bersih maupun kotor.

Gangguan kesehatan mata yang timbul akibat mengucek mata dengan tangan kotor adalah terjadinya iritasi yang biasanya ditandai dengan mata memerah, terasa ada sesuatu yang mengganjal serta gatal. Oleh sebab itu, langkah awal untuk menjaga kesehatan mata adalah dengan menjaga kebersihan diri termasuk membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.

Malas membersihkan lensa kontak

Saat ini penggunaan lensa kontak tidak terbatas bagi orang yang memiliki gangguan penglihatan, tetapi juga untuk estetika kecantikan. Sayangnya, abai untuk tidak membersihkan lensa kontak justru bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan mata. Pasalnya, lensa kontak yang tidak terawat kebersihannya dapat memicu tumbuhnya jamur yang dapat menginfeksi mata ketika digunakan.

Selain itu, cairan pembersih lensa kontak juga harus terjamin steril, karena jika terkontaminasi dapat mengundang infeksi Acanthamoeba pada kornea. Jadi, untuk menjaga kesehatan mata pastikan untuk meninggalkan kebiasaan sepele ini, ya…

Menggunakan gawai terlalu lama

Era digital menuntut masyarakat lebih banyak beraktivitas menggunakan perangkat elektronik seperti smartphone, laptop maupun komputer baik untuk kepentingan sekolah, kerja, bahkan hiburan. Sayangnya, saat berada di depan layar gawai masyarakat kerap tidak sadar waktu sehingga menyebabkan otot mata bekerja ekstra. Akibatnya mata menjadi lelah hingga membuat sakit kepala.

Sinar biru atau blue ray dari layar gawai ini dapat menyebabkan degenerasi makula pada retina mata, jika kebiasaan menatap layar gawai  diteruskan bukan tidak mungkin dapat berujung kebutaan.

Oleh sebab itu, agar mata tidak cepat lelah ketika menggunakan gawai masyarakat perlu melakukan relaksasi dengan rumus 20-20-20. Yaitu memberikan jeda setiap 20 menit dengan mengalihkan pandangan sejauh 20 kaki atau 6 meter selama 20 detik.

Membaca sambil tiduran

Kebanyakan masyarakat terbiasa menggunakan gawai atau membaca dengan posisi tiduran. Posisi tiduran saat membaca sangat tidak sarankan karena jarak baca yang tidak ideal. Saat berbaring telentang, jarak mata dengan gawai atau buku cenderung sangat dekat, padahal jarak ideal membaca itu seharusnya sekitar 30 cm dari mata. Sedangkan, sudut terbaik untuk memegang buku atau gawai sebaiknya 60 derajat dari mata.

Kebiasaan sepele ini seringkali diabaikan karena saat membaca orang cenderung mencari posisi paling nyaman. Membaca dengan posisi sambil tiduran mengakibatkan otot di sekitar mata menegang sehingga menyebabkan astenopia atau mata lelah. Meskipun kondisi ini tidak berdampak permanen terhadap kesehatan mata, namun dapat menyebabkan gejala-gejala lain yang membuat tidak nyaman seperti penglihatan kabur atau ganda, sakit kepala, lebih sensitif terhadap cahaya, mata kering, hingga bagian leher, pundak dan punggung terasa sakit.

Kecanduan obat tetes mata

Penggunaan obat tetes mata kerap menjadi solusi ketika mengalami mata merah. Termasuk masyarakat yang terbiasa beraktivitas di depan layar gawai atau yang bekerja di lapangan juga mengandalkan obat tetes mata karena mata yang terasa kering dan terpapar debu. Meskipun penggunaan obat tetes mata tidak dilarang, namun masyarakat tidak disarankan menggunakan obat tetes mata yang dijual bebas secara sembarangan dan terus menerus. Pasalnya tidak semua mata yang memerah atau iritasi bisa asal diobati. Sebaiknya ketika mengalami mata merah selama lebih dari tiga hari atau punya keluhan mata buram lebih baik segera menemui dokter spesialis mata. Sebab setiap penyakit harus diketahui penyebabnya sebelum diberikan obat yang tepat. (Lingkar Network | Lingkarjateng.id)