KENDAL, Lingkarjateng.id – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2024 di sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Kendal menyisakan masalah. Pasalnya, sejumlah SDN disinyalir kekurangan murid sehingga kuota siswa di masing-masing sekolah tidak terpenuhi.
Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kendal, sebanyak 15 SD Negeri yang tersebar di sejumlah kecamatan hanya mendapat siswa baru kurang dari 5 anak.
Kelima belas sekolah tersebut antara lain SDN 2 Kertomulyo, Brangsong, SDN 2 Karangayu, Cepiring; SDN 3 Langenharjo, Kendal; SDN 1 Ketapang, Kendal, SDN 1 Ngilir, Kendal; SDN 3 Gonoharjo, Limbangan; SDN 2 Krikil, Pageruyung; SDN 1 Parakan Sebaran, Pageruyung.
Selain itu, ada juga SDN 1 Curugsewu, Patean; SDN 2 Tirtomulyo, Plantungan; SDN 1 Tejorejo, Pegandong; SD Negeri Mojo, Ringinarum; SDN 5 Getas, Singorojo; SDN 1 Pesaren, Singorojo; dan SDN 3 Weleri, Weleri.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kendal, Sulardi, mengatakan bahwa permasalahan kurangnya siswa di sejumlah SDN ini tidak akan terjadi jika orang tua calon siswa fokus mengikuti PPDB jalur zonasi. Hal ini karena menurutnya jumlah bibit siswa SD dari tahun ke tahun di Kabupaten Kendal dinilai masih sama.
“Jadi banyak orang tua yang mendaftarkan sekolah anaknya di luar zonasi. Karena ingin anaknya bersekolah di pusat kota dan tidak mau di daerah pinggiran. Kondisi itu membuat SD di pinggiran jadi sedikit peminatnya. Ini juga berpengaruh saat siswa lulus nanti dan akan melanjutkan ke SMP,” terangnya.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa persaingan dengan sekolah swasta serta banyaknya orang tua calon siswa yang inden sekolah menjadi faktor penyumbang minimnya peminat SDN di lokasi pinggiran Kabupaten Kendal.
“Artinya, mendaftar di sekolah yang sudah penuh kuotanya dan mengharap peluang ada siswa yang mengundurkan diri. Kami bersikap tegas dengan hal itu. Inden itu tidak dibenarkan secara aturan. Misal kalau disetujui tambah rombel, nanti sekolah lainnya akan mati karena tidak dapat siswa,” tegas Sekretaris Disdikbud Kendal itu.
Menurutnya, PPDB jenjang SD tahun ini memang memiliki berbagai macam permasalahan. Salah satunya, jalur zonasi yang diterapkan sebagai upaya pemerataan pendidikan justru tidak sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, pihaknya akan mengambil langkah regrouping terhadap sekolah yang mendapatkan siswa sedikit.
“Untuk sekolah yang dapat siswa sedikit ada rencana regrouping. Tapi kami lihat dulu terkait lokasi dan akses siswa,” bebernya.
Menurut Sulardi, jumlah siswa ideal dalam satu kelas adalah 20-28 siswa.
Sementara itu, Guru SDN 1 Bandengan, Arif Febriyanto, menjelaskan bahwa hingga hari ini hanya ada 13 siswa yang mendaftar di sekolahnya. Ia menyebut angka tersebut meningkat dari tahun lalu.
“Saat ini masih proses pendaftaran. Kalau di sini faktornya mungkin karena halamannya sempit dari SD yang berdekatan di sini. Dan SD di sini jaraknya berdekatan. Di Bandengan sendiri ada tiga sekolah. Jadi mungkin itu jadi salah satu faktor pertimbangan orang tua,” ungkapnya. (Lingkar Network | Arvian Maulana – Lingkarjateng.id)
































