BLORA, Lingkarjateng.id – Dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Blora, Kamis, 1 September 2026. Kali ini kasus menimpa 13 siswa SDN 1 Tutup, Kecamatan Tunjungan.
Kepala SDN 1 Tutup, Mustofa Kamal Riyanto mengatakan kejadian mulai diketahui sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, seorang guru kelas 2 melaporkan adanya siswa yang mengalami sakit perut, pusing dan muntah.
“Bu Guru kelas 2 lapor kepada saya kaitannya ada yang sakit perut, pusing, muntah. Kemudian ditangani Bu Guru dengan pertolongan pertama menggunakan minyak kayu putih,” ujar Kamal.
Ia mengatakan MBG yang diterima sekolahnya merupakan kiriman dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tutup, di bawah naungan Yayasan Pelita Gizi Makmur.
Menurutnya, pihak sekolah langsung memulangkan siswa usai merasakan gejala-gejala tersebut. Selain itu, pihak sekolah juga langsung menghubungi pihak SPPG untuk meminta penanganan.
“Saya chat WhatsApp ke kepala SPPG, karena tidak segera dibalas akhirnya kami telepon, mohon untuk segera ditangani,” jelasnya.
Namun, sambung Kamal, pihak yang datang ke sekolah pertama kali justru dari pihak bukan langsung tenaga kesehatan.
“Setelah datang saya bertanya, kenapa yang datang dari pihak SPPG bukan dari tim kesehatan. Kemudian dia baru telepon ke puskesmas,” ujarnya.
Tidak lama kemudian, petugas dari puskesmas datang ke sekolah. Petugas kepolisian dari Polsek serta personel Koramil juga turut datang untuk melakukan penanganan dan pemeriksaan.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, mendatangi SDN 1 Tutup untuk melakukan proses penyelidikan. Pihaknya mengamankan sisa muntahan siswa yang ada di depan kelas. Sementara muntahan lainnya seperti di toilet sekolah langsung disiram.
“Masih dalam proses penyelidikan,” kata Zaenul.
Ditempat SPPG Tutup, Subkoordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Blora, Tutik Rahayu mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan ke SPPG.
Menurutnya, petugas menggali sejumlah informasi terkait proses pengolahan dan pendistribusian makanan, mulai dari waktu makanan dimasak hingga proses pengiriman ke penerima.
“Kita tadi menanyakan terkait dengan kapan masaknya dan matangnya jam berapa, terus distributornya siapa, kemudian datangnya jam berapa,” jelas Tutik.
Petugas kemudian mendatangi langsung lokasi SPPG Yayasan Pelita Gizi Makmur Tutup untuk melakukan pemeriksaan kondisi tempat pengolahan makanan.
“Dari pemeriksaan awal, ternyata ada banyak dindingnya yang bolong,” ungkapnya.
Meski demikian, Tutik mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab munculnya keluhan pada siswa. Pemeriksaan masih dilakukan, termasuk menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang berkaitan dengan makanan tersebut.
“Kami belum bisa menyampaikan sepenuhnya karena masih proses pemeriksaan laboratorium,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Sekar






























