Pekalongan (lingkarjateng.id) – Forum Netizen Julid Kabupaten Pekalongan menggelar acara “ngumpul bareng” bertajuk “Iki Piye Iki Piye Sih”, Kopdar Netizen Julid Kabupaten Pekalongan di Landscape Area, Kecamatan Kedungwuni, Rabu (1/4/2026).
Kegiatan ini terbuka untuk umum. Acara digelar dalam suasana santai dan lesehan itu menjadi ajang silaturahmi pasca-Idulfitri 1447 Hijriah, sekaligus ruang bagi masyarakat sampaikan unek-unek, kritik, hingga realita yang terjadi di lapangan kepada para pemangku kebijakan.
Plt Bupati Pekalongan, Sukirman yang hadir dalam acara tersebut menjadi simbol keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi, kritik, dan gagasan masyarakat dalam suasana santai dan penuh dialog.
Sukirman menilai forum ini sebagai wadah aspirasi yang menarik sekaligus langkah awal membangun komunikasi yang lebih terbuka antara masyarakat dan pemerintah.
“Ini adalah salah satu bentuk penyampaian aspirasi dari teman-teman pelaku media sosial dan masyarakat. Wadah ini cukup menarik, dan ini pertama kalinya saya hadir. Insya Allah akan menjadi komunikasi selanjutnya,” ujarnya.
Sukirman menegaskan pentingnya menjaga ruang kebebasan berpendapat, termasuk kritik terhadap kebijakan pemerintah.
“Tidak boleh ada pembatasan kreativitas, ide, dan gagasan. Sikap kritis terhadap lingkungan maupun kebijakan pemerintah harus tetap jalan, termasuk otokritik kami di pemerintahan,” tegasnya.
Terkait dukungan pemerintah, Sukirman menyebut belum bisa memfasilitasi secara penuh, namun memastikan komunikasi akan terus dibangun bersama masyarakat.
“Komunikasi akan kita laksanakan bareng-bareng. Pola komunikasi yang sudah kita buka ini insya Allah akan terus berlanjut. Usulan kegiatan, terutama terkait infrastruktur seperti jalan, akan kita proses dan ikhtiarkan bersama,” tambahnya.
Senada, Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Abdul Munir, menyebut kegiatan ini sebagai saluran positif untuk membuka ruang komunikasi yang selama ini tersumbat.
“Ini kegiatan positif. Temu, dongeng, wadul, gendu-gendu rasa. Saluran yang tersumbat bisa terbuka, pikiran yang tidak bisa disalurkan jadi tersalurkan di sini,” katanya.
Ia mengungkapkan, diskusi yang berlangsung membahas berbagai hal, mulai dari konsep pembangunan, niat pembangunan, hingga pemanfaatan hasil pembangunan agar tepat sasaran.
Munir juga memberikan masukan agar ke depan kegiatan serupa dikemas lebih fokus dan kreatif. “Ke depan mungkin dikemas lebih santai, lebih kreatif, dan fokus pada satu materi supaya tidak terlalu luas,” ujarnya.
Sementara itu, panitia kegiatan, Handono Warih atau yang dikenal dengan nama panggung Abu Waswas, menyampaikan bahwa kegiatan ini awalnya direncanakan secara daring, namun akhirnya digelar secara langsung setelah mendapat respons positif dari berbagai pihak.
“Tujuan utamanya silaturahmi dan saling maaf-maafan. Selain itu, ada agenda ‘ngejulid’, yaitu menyampaikan keluh kesah, realita, dan informasi di lapangan kepada pihak terkait,” jelasnya.
Ia mengaku tidak menyangka sejumlah pejabat penting, termasuk Plt Bupati dan Ketua DPRD, bersedia hadir dan berbaur langsung dengan para peserta.
“Kami bangga, mereka mau duduk lesehan bersama netizen yang selama ini mungkin dianggap tidak menyenangkan. Ternyata tanggapan beliau justru mengapresiasi bahwa ‘julid’ ini untuk membangun,” ungkapnya.
Handono berharap forum ini dapat terus berlanjut dan menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara masyarakat dan pemerintah. Ia juga berencana merangkum seluruh aspirasi yang disampaikan, baik secara langsung maupun daring, untuk diteruskan kepada pihak terkait.
“Harapannya komunikasi yang sebelumnya buntu bisa jadi lebih lancar, persepsi bisa diselaraskan, dan ke depan pembangunan bisa sesuai kebutuhan masyarakat, terutama yang mendesak,” ujarnya. ***
Jurnalis : Fahri Akbar
Editor : Fian































