PEKALONGAN, Lingkarjateng.id — Aksi sosial penanaman mangrove digelar di kawasan Ekowisata Mangrove Mulyoasri, Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Senin, 30 Maret 2026.
Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Jawa Tengah, Gunawan, menyampaikan bahwa penanaman mangrove ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-43 yang jatuh pada 16 Maret 2026, serta halal bihalal.
“Total rencana penanaman sekitar 20 ribu bibit mangrove. Hari ini ditanam sekitar 3 ribu bibit, dan Kemarin juga sudah dilakukan penanaman 3 ribu bibit,” ujarnya.
Mengusung tema “Bangkit Bersama, Hijaukan Kembali Pesisir Kita”, kegiatan ini menjadi langkah konkret pemulihan lingkungan pascabanjir rob yang melanda kawasan tersebut.
Gunawan menjelaskan bahwa penanaman mangrove fokus pada titik yang terdampak rob dengan ditanam ulang.
“Yang mati kita tanami ulang. Ini untuk mengembalikan ekosistem hutan mangrove yang terdampak banjir,” jelasnya.
Gunawan menegaskan mangrove memiliki peran penting dalam konservasi alam, perlindungan tata air pesisir, hingga memberikan nilai ekonomi melalui pengembangan wisata dan usaha produktif.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melindungi mangrove yang sudah ada. Harapannya, Mulyorejo bisa menjadi percontohan pengelolaan mangrove yang lestari,” tambahnya.
Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, antara lain CDK Wilayah IV, Kelompok Tani Hutan Benowo Sekar, Pemerintah Desa Mulyorejo, DPRD Provinsi Jawa Tengah Komisi B, LPPNU, kelompok tani Api-api, kelompok tani Wonokerto, kader konservasi alam, Lintas Komunitas Peduli Pekalongan (LKPP), serta masyarakat sekitar.
Sementara itu, Humas Ekowisata Mangrove Mulyoasri, Saniya, menyebut kegiatan ini menjadi titik awal kebangkitan kembali aktivitas kawasan wisata yang sempat terhenti akibat banjir selama kurang lebih 40 hari, serta berlanjut pada masa Ramadan.
“Kegiatan ini bisa dibilang sebagai reborn. Setelah banjir, banyak bibit mangrove mati, sekarang kita mulai lagi dengan penanaman ulang,” ungkapnya.
Kondisi kawasan Ekowisata Mangrove saat ini masih dalam tahap pemulihan. Sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan, termasuk tanggul yang sempat jebol dan perbaikannya belum maksimal.
Selain itu, akses menuju lokasi juga masih menjadi kendala. Kendaraan roda empat, seperti mobil dan bus, belum dapat menjangkau area wisata, padahal sebelumnya banyak kunjungan dari kalangan pelajar.
“Ini menjadi PR bersama, baik kelompok, masyarakat, maupun pemerintah, agar akses bisa segera diperbaiki sehingga pengunjung lebih mudah datang,” ujarnya.
Saniya berharap, bibit mangrove yang ditanam dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir.
“Kita memang tidak bisa melawan alam sepenuhnya, tapi setidaknya bisa meminimalisir dampaknya. Semoga ke depan kegiatan di sini semakin aktif dan hal-hal buruk tidak terulang lagi, khususnya di Desa Mulyorejo,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa































