Blora (lingkarjateng.id) – Tim survei gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, BNPB Provinsi Jawa Tengah, BPBD Blora, dan Dinas PUPR Kabupaten Blora melakukan peninjauan ke lokasi longsoran jembatan penghubung antar dua kecamatan.
Meski belum terealisasi, namun masyarakat Desa Sumber Kecamatan Kradenan bisa bernafas lega. Setidaknya ada harapan untuk segera ada penanganan dari pemerintah melalui pihak terkait.
Diketahui, jembatan ini sendiri merupakan jembatan vital yang menghubungkan dua kecamatan,nyakni Randublatung dan Kradenan.
Camat Kradenan, Tarkun, mengatakan bahwa cek lokasi ini bertujuan untuk menentukan langkah apa saja yang akan diambil guna lakukan perbaikan.
“Dalam survei ini, kita bersama tim menilai kondisi jembatan secara menyeluruh dan akan menetapkan langkah penanganan selanjutnya guna memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat,” kata Tarkun, Senin (16/3).
Dirinya tidak menjelaskan secara rinci nominal anggaran dan pelaksanaan perbaikan longsoran tersebut. Pihaknya berharap proses pembangunan longsoran jembatan dapat diselesaikan secepat mungkin.
“Kita sedang menunggu proses lebih lanjut, namun akan diusahakan agar pembangunannya berjalan dengan cepat,” jelasnya.
“Lalu untuk anggaran pembangunan berasal dari BNPB, pelaksanaan akan dilakukan oleh BPBD Kabupaten Blora, sedangkan bagian teknis akan ditangani oleh Dinas PUPR Kabupaten Blora,” katanya.
Sebagaimana diketahui, tebing talud jembatan di Desa Sumber, Kradenan, Blora pada Selasa, 12 Maret 2024 silam longsor. Namun, hingga kini di lokasi hanya di pasang garis polisi dan tong sebagai peringatan serta belum ada perbaikan secara permanen.
Bagi pengendara yang melintas dari dua arah terpaksa harus bergantian. Mereka juga harus pelan-pelan agar tak terperosok.
Namun meski nyaris setahun, jembatan itu tak kunjung diperbaiki. Sehingga pengendara yang melintas mengeluh.
Wawan salah seorang warga mengatakan, lambannya penanganan ini menuai kekecewaan warga. Masyarakat khawatir longsor tersebut dapat memakan korban, terlebih pada malam hari.
“Kalau malam sangat rawan, jalannya sempit, gelap, dan di samping langsung longsor, gak ada penerangan,” keluhnya.***
Jurnalis : Hanafi































