KENDAL, Lingkarjateng.id – Ribuan warga antusias berebut gunungan hasil bumi yang sebelumnya telah diarak mengelilingi kawasan Masjid Agung Kendal diiringi karnaval budaya yang diikuti berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar hingga organisasi kemasyarakatan di Kabupaten Kendal, Selasa, 17 Februari 2026 sore.
Tradisi Grebeg Gunungan dan karnaval budaya ini menjadi agenda rutin digelar takmir Masjid Agung Kendal sebagai wujud kegembiraan dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengatakan, grebeg gunungan dan karnaval budaya yang biasa disebut dengan istilah dugderan menyambut bulan suci Ramadhan di Masjid Agung Kendal ini menjadi simbol tradisi dan budaya yang harus terus dilestarikan.
“Dugderan ini sebagai wujud syukur umat muslim yang ada di Kendal dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Ini mencerminkan nilai-nilai kehidupan dari para leluhur yang mengajarkan kita untuk saling menghormati, menjaga harmoni sosial, saling berbagi. Ini juga bentuk pelestarian budaya leluhur,” ungkapnya.
Ketua panitia kegiatan, Akhmad Mursyidi mengatakan dugderan kali ini mengusung tema “Melestarikan Tradisi Kabupaten Kendal yang Berdikari, Berbudaya, Berakhlakul Karimah.”
Ada 4 gunungan yang berisi aneka hasil pertanian, sayuran, dan jajanan tradisional yang diarak dari halaman masjid memutar keliling kampung. Dan setibanya arak-arakan gunungan langsung diperebutkan warga.
“Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat sekaligus harapan agar Ramadhan tahun ini membawa keberkahan dan kesejahteraan bagi seluruh warga,” ungkapnya.
Ditambahkan dalam karnaval budaya diikuti oleh 24 kafilah dengan total peserta 825 orang dari 4 kelurahan di yang berada di sekitar Masjid Agung Kendal.
“Alhamdulillah peserta tahun ini meningkat. Acara diawali nyekar ke Mbah Kiai Wali Joko dilanjutkan ke Kiai Gembyang. Kemudian ada perform dari anak-anak TK dan pondok pesantren,” ujarnya.
Menurutnya kegiatan grebeg gunungan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud komitmen dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
“Tujuan kami adalah untuk melestarikan tradisi budaya di Kendal. Harapannya semangat persatuan serta nilai-nilai religius semakin menguat menjelang dan saat pelaksanaan ibadah di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah ini,” harapnya.
Sementara salah seorang warga Ngilir, Eko mengaku sengaja ikut berebut gunungan bersama warga. Ia meyakini rebutan gunungan ini menjadi simbol keberkahan.
“Tadi dapat terong sama jajanan pasar, ya setiap tahun ikut berebut agar dapat berkahnya,” katanya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Sekar S





























