PATI, Lingkarjateng.id – Hujan dengan intensitas tinggi sejak 8-13 Januari 2026 menyebabkan sejumlah wilayah di Jawa Tengah seperti Kabupaten Pati, Kudus, Demak, dan Kota Semarang, dilanda banjir.
Akibatnya, sejumlah permukiman warga, jalan, hingga lahan pertanian terendam genangan air. Selain itu, banjir juga merendam sejumlah sekolah hingga menyebabkan para siswa terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara dalam jaringan (daring).
Di Kabupaten Pati, banjir turut merendam lahan pertanian bawang merah tepatnya di Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa.
Tinggi genangan air yang mencapai 1,5 meter menyebabkan petani terpaksa memanen bawang merah lebih dini. Dengan kondisi tersebut, para petani pasrah seandainya harga jual hasil panen mereka tidak mampu menyentuh harga normal sebesar Rp28.000 per kilogram.
Para petani berharap pemerintah bisa menangani permasalahan banjir di wilayah setempat sehingga tidak berdampak pada produksi bawang merah.
Sementara itu, Kabupaten Kudus, menjadi salah satu wilayah yang terdampak banjir cukup parah. Di Kecamatan Mejobo, banjir masih merendam sejumlah desa dengan ketinggian mencapai lutut hingga perut orang dewasa.
Tak hanya merendam permukiman warga, banjir juga sempat melumpuhkan lalu lintas di Jalan Pantura Kudus-Pati, tepatnya di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, akibat sungai yang tak mampu menampung tingginya debit air.
Warga berharap banjir segera surut dan meminta pemerintah setempat untuk menangani kondisi tumpukan sampah yang menghambat arus air sungai.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Kudus telah menetapkan status tanggap darurat bencana hingga 19 Januari 2026 mendatang.
Di Kabupaten Demak, banjir menggenang sejumlah akses jalan dan permukiman warga di empat kecamatan.
Di Kecamatan Sayung, banjir merendam dua desa yaitu Desa Sayung dan Kalisari. Di Kecamatan Bonang banjir terjadi di Desa Bonangrejo.
Selain itu, banjir juga melanda Desa Wonorejo dan Kedung Banteng, Kecamatan Karanganyar, serta Kelurahan Betokan.
Adapun ketinggian air di masing-masing wilayah tersebut bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga 50 sentimeter.
Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas warga terganggu dan mobilitas mereka tersendat. Bahkan, sejumlah desa menutup akses jalan untuk sementara waktu agar tidak dilalui kendaraan roda dua karena dikhawatirkan akan mogok.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Demak melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengerahkan pompa air di sejumlah agar genangan air cepat surut.
Sementara di Kota Semarang, banjir melanda sejumlah daerah dataran rendah, termasuk jalanan dengan lalu lintas padat.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Rany Puspita, menyampaikan Provinsi Jawa Tengah saat ini sedang memasuki puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026 mendatang.
“Wilayah yang tercatat cukup tinggi hujannya masuk di sebagian wilayah Pantura timur, kemudian di sebagian wilayah pegunungan dataran tinggi, dan juga sebagian wilayah Solo Raya,” katanya.
Rany menyebut tingginya intensitas di Jawa Tengah saat ini menyebabkan bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah.
Terkait bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Muria Raya, khususnya di lereng Gunung Muria, Rany menyebut hal itu dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan kondisi topografi wilayah tersebut.
“Di Muria Raya sendiri termasuk wilayah dataran tinggi. Selain faktor dinamika atmosfer yang terjadi, faktor topografi wilayah Muria Raya itu sendiri cukup mempengaruhi. Jadi memang curah hujan di wilayah tersebut cukup tinggi,” ujarnya.
Rany menyampaikan pihaknya saat ini belum melaksanakan upaya modifikasi cuaca meski sejumlah wilayah di Jawa Tengah dilanda bencana akibat tingginya intensitas hujan.
Menurutnya, pelaksanaan modifikasi cuaca harus mendapat persetujuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat.
“Butuh assessment dari BPBD daerah dan BNPB, jadi kami BMKG sebagai pelaksana,” pungkasnya.






























