REMBANG, Lingkarjateng.id – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Rembang sejak awal Januari memicu serangkaian bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah. Dalam rentang 8-11 Januari, terjadi longsor, rumah roboh, pohon tumbang, hingga limpasan air di beberapa titik.
Kondisi tersebut membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang menetapkan kesiapsiagaan penuh dan beroperasi selama 24 jam.
Kepala Pelaksana BPBD Rembang, Sri Jarwati, mengatakan curah hujan tinggi menjadi faktor utama terjadinya berbagai bencana tersebut. Untuk memastikan penanganan cepat, BPBD Rembang saat ini memberlakukan siaga penuh.
“Wilayah Rembang memang masuk dalam kategori potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada Januari. Karena itu kami terus siaga dan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujar Sri Jarwati, Senin, 12 Januari 2026.
Salah satu kejadian longsor dilaporkan terjadi di Desa Sendangcoyo. Tebing longsor menggerus bagian rumah warga sekaligus jalan poros desa, dengan estimasi kerugian mencapai Rp116 juta.
Sri mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat serta menyalurkan bantuan logistik, sandang, dan pangan bagi warga terdampak.
Peristiwa serupa juga terjadi di Desa Sanetan, Kecamatan Sluke. Longsor tebing sepanjang sekitar 15 meter dan lebar 4 meter di belakang rumah warga menyebabkan kerugian sekitar Rp30 juta.
Selain longsor, sebuah rumah warga di Desa Labuan Kidul, Kecamatan Sluke, roboh akibat curah hujan tinggi yang diperparah kondisi bangunan yang sudah lapuk.
Rumah berukuran 4×6 meter tersebut mengalami kerusakan total dengan perkiraan kerugian Rp15 juta. Untuk sementara, pemilik rumah mengungsi ke kediaman kerabat.
Warga bersama tim BPBD setempat telah melakukan kerja bakti membersihkan puing bangunan, sekaligus merencanakan pembangunan rumah sementara.
Bencana juga berdampak pada bangunan di bantaran sungai. Sebuah gudang tembakau permanen dilaporkan mengalami longsor karena berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang rawan.
BPBD Rembang telah berkoordinasi dengan pemerintah desa, pemilik bangunan, serta Balai Besar Wilayah Sungai (BWS), mengingat lokasi tersebut tidak diperuntukkan bagi bangunan permanen.
Sementara itu, kejadian pohon tumbang dilaporkan di Desa Kepoagung, Kecamatan Pamotan, serta Desa Balongmulyo, Kecamatan Kragan. Tim BPBD bersama relawan masyarakat bergerak cepat untuk mengevakuasi dan membersihkan pohon yang sempat menutup akses jalan.
Di sektor pendidikan, longsor juga mengancam Madrasah Nuraniah di Desa Glebeg. Tebing di sekitar aliran sungai ambles dan longsor, sehingga berpotensi membahayakan bangunan sekolah.
Pemerintah desa setempat berencana melakukan perbaikan menggunakan dana APBDes setelah dilakukan pengecekan lapangan oleh BPBD.
Selain itu, banjir limpasan air akibat saluran tersumbat dilaporkan menggenangi Jalan Pantura Purworejo dan sempat mengganggu arus lalu lintas.
Sri memastikan hingga saat ini stok logistik kedaruratan BPBD Rembang dalam kondisi aman. Koordinasi dengan pemerintah provinsi juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi jika diperlukan bantuan tambahan.
Ia turut mengapresiasi peran aktif masyarakat dan media dalam mendukung penanggulangan bencana.
Di Kabupaten Rembang, tercatat terdapat 32 Desa Tangguh Bencana yang telah mampu melakukan penanganan awal secara mandiri sebelum melaporkan kejadian ke BPBD. Hal tersebut dinilai sebagai indikator meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana.
BPBD Rembang mengimbau warga, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah perbukitan, untuk meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat diminta segera mengungsi sementara apabila hujan lebat berlangsung lebih dari satu jam dan debit air sungai menunjukkan peningkatan.
“Bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, pohon tumbang, dan angin kencang memang sedang sering terjadi. Keselamatan adalah yang utama,” pungkas Sri.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Rosyid































