BLORA, Lingkarjateng.id – Proyek peningkatan Jalan Plosorejo-Sembongin, Kabupaten Blora, mengalami keterlambatan dari jadwal kontrak yang telah ditetapkan.
Pekerjaan yang seharusnya rampung dalam waktu 103 hari, terhitung mulai 4 September hingga 15 Desember 2025, hingga kini belum selesai sehingga kontraktor proyek dikenai sanksi.
Berdasarkan papan informasi proyek di lokasi, proyek pembangunan Jalan Plosorejo-Sembongin tersebut dilaksanakan oleh CV Bintang Timur dengan konsultan pengawas CV Archidas Design.
Proyek jalan berlebar 3 meter dengan panjang 896 meter itu menelan anggaran sebesar Rp1.547.908.000 yang bersumber dari APBD Kabupaten Blora tahun 2025.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Blora, Nidzamudin Al Huda, membenarkan adanya keterlambatan pengerjaan proyek Jalan Plosorejo-Sembongin.
Nidzam mengungkapkan pihaknya telah melayangkan surat peringatan (SP) 2 kepada pelaksana proyek.
“Minggu ini kami upayakan untuk segera diselesaikan, maksimal Jumat (19 Desember 2025). Tapi ini laporan saya terima aspal juga sudah datang di lokasi,” katanya di Blora, Selasa, 16 Desember 2025.
Nidzam menjelaskan, kontraktor proyek telah menerima uang muka sebesar 30 persen dari nilai kontrak.
Sesuai ketentuan, kata Nidzam, apabila progres pekerjaan telah mencapai 40 persen namun rekanan dinilai tidak mampu menyelesaikan, DPUPR berhak melakukan pengambilalihan pekerjaan.
“Jika proyek sudah 40 persen pihak PUPR bisa melakukan take over, apabila rekanan tidak sanggup menyelesaikan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Plosorejo, Akhmad Muslih, mengaku sering menerima keluhan dari warga terkait molornya proyek tersebut.
Ia menyebut keterlambatan ini sudah melewati batas waktu yang ditentukan dalam kontrak.
“Ini tadi ada keterlambatan untuk proyek. Seharusnya tanggal 15 Desember selesai, ini sudah tanggal 16 Desember. Tadi siang saya sudah cek lokasi, tidak ada pengerjaan, dan tidak ada pengecekan dari PUPR,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan salah satu warga Desa Plosorejo, Kusairi. Ia mengaku kesal karena proyek belum kunjung rampung, terutama akibat keterlambatan material dan kerusakan alat berat.
“Mau mengerjakan, mau aspal juga mesin selender rusak, sama yang satunya (rusak). Seharusnya ya sudah selesai, ini molor sampai beberapa hari,” katanya.
Menurutnya, proses pengerjaan terhenti karena alat berat mengalami kerusakan, meski material aspal sudah berada di lokasi sejak beberapa hari lalu.
“Kalau korban jatuh akibat jalan penuh kerikil belum ada, kalau jatuh tapi gapapa, itu ada 2 atau 3 orang lah. Kalau harapn warga itu supaya cepat selesai, garapannya cepat selesai, biar warga enggak protes dan mintanya ya segera diselesaikan,” ucapnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi jalan masih berpasir. Bahkan, pada sebagian ruas yang telah diaspal, lapisan aspal di pinggir jalan terlihat masih gembur dan mudah terkelupas.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid




























