DEMAK, Lingkarjateng.id – Tiga desa di Kabupaten Demak menjadi percontohan pembangunan hybrid sea wall atau tanggul laut sebagai solusi penanganan rob dan banjir.
Rencananya proyek ini digarap pada 2026 setelah tim pengecekan lahan memastikan titik koordinat pembangunan sudah berupa perairan setelah tim pengecekan lahan memastikan titik koordinat pembangunan sudah berupa perairan.
Kepala Bidang Tata Ruang dan Pertanahan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Demak, Naning Prihatiningrum, mengungkapkan bahwa kesiapan lahan ini sangat memperlancar proses.
“Pak Kades juga menyampaikan bahwa lokasi yang rencananya akan menjadi hybrid sea wall tahap pertama di dalamnya tidak ada lahan milik warga,” terang Naning, Jumat, 5 Desember 2025.
Dewan Demak Harap Pembangunan Tanggul Laut untuk Atasi Rob Segera Terealisasi
Dengan kondisi ini, pembangunan diperkirakan tidak memerlukan penanganan sosial terhadap masyarakat sekitar.
Noning menjelaskan proyek penanganan bencana pesisir ini akan difokuskan pada tiga desa di Kecamatan Sayung, yang dinilai menjadi lokasi paling parah terdampak abrasi. Ketiga desa tersebut adalah Desa Surodadi, Desa Bedono, dan Desa Timbulsoko.
“(Desa) Surodadi, Bedono, dan Timbulsoko memang arahan dari Gubernur Jawa Tengah menjadi tiga desa yang lokasi awal pembangunan hybrid sea wall,” ujarnya.
Proyek tanggul laut yang membentang di tiga desa tersebut direncanakan sepanjang 9,2 kilometer (km). Namun, untuk tahap awal, pembangunan akan difokuskan di Desa Surodadi sepanjang 1 km sambil menunggu proses tender.
“Rencana pembangunan akan dilaksanakan di tahun 2026, tentunya melalui tahapan tender dulu (panjangnya) sekitar 9,2 kilometer. Cuma untuk tahap awal akan dibuat satu kilometer dulu,” terangnya.
Kepala Desa Surodadi, Supriyanto, menyambut baik dan mendukung penuh rencana pembangunan hybrid sea wall. la berharap pembangunan tanggul laut dapat menjadi solusi permanen masalah rob dan abrasi.
“Memang harapan kami itu ada sabuk laut atau tanggul. Tanggul laut yang malah bisa menanggulangi desa kita biar tidak kena abrasi,” ucapnya.
Hybrid sea wall merupakan perpaduan antara konstruksi buatan (beton) dan konservasi alam (penanaman mangrove) untuk menciptakan perisai ganda yang efektif menahan gelombang laut dan abrasi.
Jurnalis: Burhanuddin Aslam
Editor: Ulfa
































