BLORA, Lingkarjateng.id – Sebanyak 66 satuan pendidikan di Kabupaten Blora mendapat bantuan revitalisasi sekolah senilai Rp 62,4 miliar dari APBN. Program ini dikerjakan secara swakelola, tanpa melibatkan pihak ketiga, dan dinilai lebih efisien oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Blora.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Blora, Sunaryo, menilai metode swakelola yang diterapkan oleh Kemendikdasmen RI dapat memperluas sasaran revitalisasi.
“Metode swakelola, sasarannya lebih banyak. Dengan dana yang sama, sasaran yang kita capai itu lebih besar. Kalau hitungan kami kasar bisa sampai 30 persen,” ujar Sunaryo saat mendampingi Staf Ahli Manajemen Talenta Kemendikdasmen RI, Mariman Darto, dalam kunjungan ke Kabupaten Blora, Kamis, 6 November 2025.
Tak hanya itu, Sunaryo menilai adanya pemberdayaan satuan pendidikan karena kepala sekolah menjadi penanggung jawab proyek.
“Ia (kepala sekolah) tahu persis kebutuhan pembangunan di sekolah. Tapi kalau pola pemborongan itu kan manut (ikut) penyedia,” katanya.
Lebih lanjut, menurutnya, pola swakelola memungkinkan lebih banyak pembangunan atau perbaikan dilakukan.
“Kalau swakelola bisa menjadi lebih banyak. Tetap ada berita acara,” ujarnya.
Sunaryo menambahkan, dalam pembangunan revitalisasi swakelola, lembaga pendidikan tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Namun, kendala yang muncul adalah tenaga kerja yang belum terbiasa menggunakan alat pelindung, seperti helm, saat bekerja.
“Standar K3 juga kita tekankan, ini standar penting. Masalahnya (pekerja) belum terbiasa,” katanya.
Lebih lanjut, selain K3, ia juga berharap kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dapat diikuti oleh satuan pendidikan penerima program revitalisasi agar keselamatan pekerja lebih terjamin.
“Dalam juknis tidak ada kewajiban. Tapi laporan dari kepala sekolah, sudah dilakukan sosialisasi terhadap kepesertaan BPJS,” katanya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Sekar S
































