KAB.SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Desa (Pemdes) Kesongo yang ada di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang mengembangkan sistem perairan atau irigasi dengan memanfaatkan panas sinar matahari atau tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan persawahan yang ada di wilayah Desa Kesongo, Tuntang.
Pada kegiatan Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM), Pemdes Kesongo, Tuntang bekerjasama dengan Polines Semarang dengan tema kegiatan “Pemberdayaan Masyarakat untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian Berkelanjutan Melalui Smart Farming Berbasis PLTS Terapung Rawa Pening” yang ada di wilayah Desa Kesongo, Tuntang, Kabupaten Semarang.
Kepala Desa Kesongo, Supriyadi mengatakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTS) ini dikombinasi dengan rangkaian dari Pompa Air Tenaga Surya (PATS) yang diharapkan dapat mengairi lahan persawahan di Desa Kesongo, Tuntang khususnya pada saat musim kemarau datang.
“Karena pada saat musim kemarau itu air di lahan sawah yang ada di desa kami ini kering, air dari Rawa Pening itu surut. Sehingga, alat PLTS yang dirakit dengan PATS ini sangat diperlukan ada di desa kami,” katanya, Rabu, 24 September 2025.
Dengan adanya PLTS itu, Supriyadi menyebutkan lahan sawah yang ada di Desa Kesongo dengan luas lahan sebanyak 10 sampai 15 Hektare (Ha) dapat diairi dengan terobosan alat tersebut.
“Karena memang jika musim kemarau tiba, sawah-sawah yang sekian luasnya itu tidak bisa digarap, bahkan petani harus mengambil air dengan pompa seadanya kalau ingin menanam padi di musim kemarau, karena kalau tidak dipompa, ya tidak ada air di lahan sawah ini,” bebernya.
Disebutkannya kembali, jika para petani di Desa Kesongo itu melakukan penyedotan air dari Rawa Pening secara manual dan mandiri, dibutuhkan biaya dan tenaga yang jauh lebih besar daripada saat ini sudah ada alat yang dibangun dari hasil kolaborasi dengan perguruan tinggi yang ada di Kota Semarang itu.
“Kami berharap dengan adanya alat irigasi tenaga surya ini bisa meningkatkan produktivitas hasil pangan dari Desa Kesongo ini,” imbuh dia.
Kades Kesongo itu juga mengungkapkan, kalau hasil produktivitas dari adanya 1 Ha saja di lahan sawah yang ada di Desa Kesongo itu bisa menghasilkan setidaknya 6 sampai dengan 7 ton.
“Memang belum maksimal kalau lahan 1 Ha itu hanya menghasilkan 6 sampai 7 ton, karena semestinya bisa menghasilkan lebih dari 6 sampai 7 ton dalam satu kali musim panen, karena harusnya bisa panen 12 sampai 14 ton jika bisa panen dalam dua kali dalam satu kali musim,” terang Supriyadi.
Pihaknya mengungkapkan, jika kurang maksimalnya hasil panen di Desa Kesongo itu dikarenakan sistem irigasinya yang kurang maksimal, karena ditambah dengan adanya faktor kekeringan di musim kemarau.
“Ya memang kami akui, sistem irigasi kami itu belum rapi dan belum maksimal, yang menjadi penyebab ya kekeringan, jadi itu sungainya tidak airnya, Rawa Pening kalau kemarau itu airnya juga menyusut, sehingga airnya tidak cukup untuk mengairi belasan Ha lahan sawah di desa kami,” papar dia.
Sebagaimana informasi, total lahan persawahan yang ada di Desa Kesongo itu ada sekitar 45 Ha di sisi sebelah barat Desa Kesongo. Dan dari total luasan lahan sawah 45 Ha itu, yang bisa digarap maksimal 20 Ha.
Sehingga, sebanyak 20 Ha lahan sawah di Desa Kesongo itu tidak bisa diproduksi, karena kurangnya air selama ini. Dengan begitu, 20 Ha lahan sawah itu tidak bisa tergarap maksimal oleh para petani di Desa Kesongo itu.
Oleh sebab itu, salah satu cara agar lahan sawah di Desa Kesongo itu bisa maksimal dalam hasil panennya itu para petani disana, harus menyedot air dari Rawa Pening lalu dialirkan ke lahan-lahan sawah yang ada selain menggunakan PLTS yang dirakit dengan sistem PATS itu karena dianggap hemat biaya dan tenaga.
“Padahal, kalau menyedot air dari Rawa Pening secara mandiri, itu jauh jaraknya dari rawa ke lahan sawah, ditambah lagi biaya dan tenaganya besar sekali, apalagi jarak dari Rawa Pening ke lahan itu sekitar 700 meter lebih, sehingga sangat memberatkan petani kami disini,” lanjutnya.
Supriyadi berharap, dengan adanya PLTS tersebut sedikitnya dapat membantu para petani di Desa Kesongo untuk bisa mendapatkan air untuk mengairi lahan-lahan sawah yang ada di desa tersebut.
“Selain itu, cara lainnya yakni mendekatkan sumber air yang ada di Rawa Pening ini ke tepi-tepi sawah, tapi kalau pakai cara ini yang sangat memungkinkan bisa dilakukan, ya bantuan dari pemerintah,” lanjutnya.
“Karena sistemnya harus dibuatkan kanal supaya sumber air itu bisa berada dekat dengan lahan sawah yang ada, sehingga petani akan bisa mudah mendapatkan air untuk mengairi lahan sawahnya,” katanya lagi.
Masalah pengairan di Desa Kesongo yang ada di Tuntang, Kabupaten Semarang itu tidak hanya terjadi di musim kemarau saja, namun juga terjadi di musim penghujan. Petani yang ada di sana, juga beberapa diantaranya mengalami kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah-sawahnya.
Di mana hal itu dikarenakan, jika musim penghujan justru masalah muncul dari banyaknya enceng gondok yang muncul dan tumbuh disekitar Danau Rawa Pening. Selain itu masalah lainnya tidak tergarapnya lahan sawah di Desa Kesongo karena sebagian sawah juga ada yang tergenang air di saat musim penghujan.
“Makanya kalau musim hujan petani selalu meminta kepada BBWS Pemali Juana untuk bisa membersihkan enceng gondok yang banyak tumbuh disaat musim penghujan, baru petani bisa mengairi sawah melalui selang-selang air yang ada di sekitar Rawa Pening itu ke lahan sawah,” ungkap Supriyadi.
Dengan begitu, para petani di Desa Kesongo ini dalam satu tahun hanya bisa panen sebanyak satu kali, bahkan dua kali saja itupun tidak semua lahan sawah bisa memproduksi hasil panen sampai dua apalagi tiga kali panen dalam satu musim panen.
Sementara itu dijelaskan oleh Dosen sekaligus Pembina Program Pengabdian Kepada Masyarakat 2025 Polines, Yusuf Dewantoro Herlambang bahwa adanya program tersebut juga berkaitan dengan adanya program Ketahanan Pangan Nasional yang tengah digalakkan oleh pemerintah pusat.
“Dan program ini juga merupakan program dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) di bidang Saitek dari kompetisi di seluruh universitas yang ada di Indonesia dalam mendapatkan hibah,” terangnya.
Terkait alat PLTS, ungkap Yusuf merupakat alat pompa untuk sumber energi irigasi yang dikembangkan dengan smart irigasi yang memanfaatkan sistem monitoring kinerja dari pompa air tenaga surya.
“Dan debit air yang dihasilkan oleh pompa air ini 16 meter kubik per sekon dengan efisiensi pompanya sekitar 40 persen. Untuk aplikasinya ini ialah pompa irigasi untuk mengairi lahan pertanian kurang lebih 13,1 Ha di sekitar Rawa Pening,” paparnya.
Untuk pengoperasian, pengelolaan, dan perawatan alat-alat tersebut, lanjut Yusuf akan dilakukan oleh petani-petani dari berbagai kelompok tani dan masyarakat yang ada di Desa Kesongo itu.
Terkait pengembangan PLTS itu sengaja di pilih dilakukan di Desa Kesongo, karena jelas Yusuf desa-desa yang ada di pinggiran Rawa Pening termasuk Desa Kesongo itu memiliki potensi untuk pengembangan alat PLTS tersebut.
“Dan di musim kemarau di sini itu hampir tidak ada air untuk mengairi lahan-lahan sawah, kalau diperkirakan hampir 2 meter lebih surutnya air Rawa Pening ini yang biasa dimanfaatkan petani untuk mengairi lahan sawah,” sambung dia.
Selain itu, idealnya ungkapnya petani dalam satu tahun itu harusnya bisa panen sampai tiga kali, dan hal itu tidak terjadi di petani-petani yang ada di Desa Kesongo ini.
“Diharapkan dengan adanya pompa ini pada saat musim kemarau bisa mengairi sawah, karena petani di sini pada saat satu musim panen itu menggunakan pompa diesel, otomatis mereka membeli solar, dan biaya solar selama satu kali masa panen selama empat bulan itu menghabiskan hampir kurang lebih Rp 2,3 juta untuk beli solar itu,” terang dia kembali.
Maka dengan itu, Yusuf menambahkan dengan adanya pompa air PLTS ini itu akan bisa menghilangkan biaya operasional yang nilanya mencapai Rp 2,3 juta karena telah diganti dengan pompa air PLTS.
“Dengan begitu, biaya yang biasanya buat beli solar dan peralatan lainnya ini yang sebesar Rp 2,3 juta itu bisa digunakan ke hal-hal lainnya dalam pengembangan pertanian yang ada di Desa Kesongo, Tuntang ini,” terang Yusuf.
“Sehingga petani di sini bisa semakin sejahtera, karena PLTS ini hanya mengandalkan panas sinar matahari untuk bisa mendapatkan air untuk irigasi lahan sawah-sawah di Desa Kesongo ini,” pungkasnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Sekar S
































