KAB.SEMARANG, Lingkarjateng.id – Kondisi ruang kelas di SDN Kawengen 02 di Desa Kawengen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang memprihatinkan. Setidaknya ada tiga kelas yang atap plafonnya ambrol hingga mengotori ruangan.
Plt Kepala Sekolah SDN Kawengen 02, Suharto menjelaskan ambrolnya plafon terjadi pada saat musim liburan sekolah kemarin, sehingga tidak menimbulkan korban.
Menurutnya, atap plafon di ruang gedung sisi sebelah kanan sekolah itu runtuh akibat rapuhnya kayu.
“Ambrolnya atap di ruangan beberapa kelas ini karena kayu-kayu rangka konstruksi atapnya sudah rapuh dimakan rayap, sehingga sebagian eternit plafon ruang kelas ini ambrol dan materialnya mengotori ruang-ruang kelas ini,” katanya, Rabu, 30 Juli 2025.
Ia menjelaskan, kerusakan pertama kali diketanui saat pihak sekolah melakukan persiapan hari pertama masuk ajaran baru 2025/2026 pada Juni lalu.
“Jadi kami bersih-bersih, untuk mempersiapkan masuk sekolah pertama di tahun ajaran baru ini. Waktu bersih-bersih itu kami sudah melihat eternitnya sudah ambrol setengah, bahkan struktur atap gedung ini tidak rata juga, artinya sedikit bergelombang,” jelasnya.
Karena merasa janggal dengan struktur bangunan yang sedikit berubah, pihak sekolah pun melakukan pengecekan, namun atap di ruang-ruang kelas itu ambrol.
“Kemudian, langkah kami sementara pada saat itu mengumpulkan orangtua murid kami, untuk menyampaikan bahwa di awal tahun ajaran baru, sekolah akan memberlakukan dua shift jam pembelajaran, yaitu di pagi dan siang hari. Ini kami lakukan demi keselamatan anak didik kami, utamanya yang ruang kelasnya mengalami kerusakan,” papar Suharto.
Selain itu, demi keamanan pihak sekolah juga memberlakukan sistem pengelompokan siswa (dua rombel, red), karena total jumlah siswa yang ada di SDN Kawengen 02 ini ada 260-an lebih.
“Seandainya kerusakan pada ruang-ruang kelas ini tidak segera teratasi, ini akan berdampak pada kurang maksimalnya penyerapan materi dari guru kepada siswa didik. Kami menebaknya tidak sampai 60 persen materi itu bisa terserap oleh siswa. Ditambah lagi, ada sistem shift,” bebernya.
Alhasil, kata dia, banyak orangtua murid yang merasa keberatan dengan diberlakukannya sistem dua shift itu.
“Banyak orangtua yang bekerja, sehingga mereka menganggapnya nangung kalau mengantarkan anaknya sekolah di jam 10.00 WIB,” imbuh dia kembali.
Suharto menambahkan, bangunan gedung sekolah di SDN Kawengen 2025 ini berdiri sejak tahun 1995-an, dan tidak pernah dilakukan peremajaan sebelum-sebelumnya.
“Pernah sekali ada perbaikan, itu cuma untuk tiang-tiang penyangga di bagian teras gedung. Sekarang ruang-ruang kelasnya ini rusak karena atapnya ambrol. Selain itu, serangan hewan rayap yang merusak kayu-kayu sebagai kerangka eternit plafon ini menambah buruknya kondisi gedung di sekolah ini,” tegasnya.
Ia berharap ada peran dan perhatian langsung dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang untuk bisa segera membantu memperbaiki fasilitas gedung dan ruang sekolah di SDN Kawengen 02 ini.
“Kami harap ada tindak lanjut sesegera mungkin untuk kerusakan atap ruang-ruang kelas kami ini kepada pemerintah, supaya proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah kami ini bisa berjalan normal seperti biasanya,” kata dia.
Ditambahkan oleh salah satu Guru di SDN Kawengen 02, Sadi bahwa saat ini banyak orangtua yang mengeluhkan terkait pemberlakuan dua jam sekolah. Karena selain waktu, akses mengantar anak ke sekolah juga dirasa orangtua sulit untuk dilakukan saat pemberlakuan dua shift ini.
“Selain jam juga akses, karena ada kelas pagi dan kelas siang. Dan yang dikeluhkan orangtua ini khususnya yang jam siang, banyak orangtua yang kerepotan,” sambungnya.
Ia pun berharap permasalahan fasilitas gedung dan ruang-ruang kelas yang rusak ini ada skala prioritas dari Pemkab Semarang.
“Kami hanya bisa minta itu saja, semoga ada skala prioritas bagi permasalahan yang kami hadapi ini,” pungkasnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Sekar S
































