SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) akan melakukan perombakan di sejumlah struktur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pada awal 2026. Salah satunya penggabungan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) menjadi bernama Dinas Pertanian dan Peternakan.
Rencana perombakan OPD ini sebelumnya disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menghadiri penandatanganan Nota Kesepakatan Perubahan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2025 bersama DPRD Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Kepala Distanbun Jateng Defransisco Dasilva Tavares atau yang akrab disapa Frans, menilai penggabungan ini sebagai tantangan sekaligus peluang besar dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan secara terintegrasi.
“Bagaimana strateginya untuk integrasi, pengembangannya secara kawasan, dan mengoptimalkan lahan. Ini menjadi tantangan buat kami,” ujar Frans di Semarang, Jawa Tengah, dalam keterangan yang diterima Selasa, 29 Juli 2025.
Menurut Frans, integrasi dua sektor ini memungkinkan pemanfaatan lahan secara lebih efisien. Kolaborasi antara pertanian dan peternakan diyakini mampu meningkatkan hasil sekaligus pendapatan petani dan peternak.
“Lahan yang ada itu bukan hanya menghasilkan satu komoditas, tapi bisa berdampak menghasilkan komoditas lain juga. Misalnya, petani bisa panen tanamannya dan juga mendapat pemasukan dari peternakan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Frans mengatakan bahwa penggabungan OPD ini membuka peluang bagi petani untuk meraih pendapatan dari berbagai subsektor secara bersamaan.
“Kami berharap pendapatan yang diterima oleh petani akan lebih meningkat. Karena dia bisa mendapatkan dari subsektor macam-macam. Dari peternakan dapat, dari pertanian juga dapat,” ucapnya.
Ia juga menyoroti perbedaan pola pikir antara petani generasi lama dan petani milenial. Menurutnya, petani generasi lama cenderung menggunakan lahan secara musiman dan terbatas, sedangkan petani muda lebih progresif dan mengelola lahan secara berkelanjutan.
“Kadang-kadang pola petani kita itu kalau masih yang tua-tua, mereka mungkin menanam satu kali sudah cukup. Ah, istirahat dulu. Mereka merasa stok di gudangnya sudah cukup. Padahal kalau anak-anak muda sekarang berpikir itu bisnis harus jalan terus. Habis tanam, ya langsung diolah lagi, ditanam lagi. Jangan biarkan aset itu nganggur,” tuturnya.
Proses penggabungan kedua dinas ini diperkirakan mulai berjalan pada Januari 2026 mendatang.
“Kalau dari yang sudah disampaikan oleh pimpinan kami, mungkin akan dimulai tahun depan. Jadi prosesnya itu Januari,” imbuhnya.
Jurnalis: Rizky Syahrul
Editor: Sekar S






























