KUDUS, Lingkarjateng.id – Wayang klithik khas Kudus kembali mendapat sorotan sebagai simbol budaya tradisional yang sarat nilai etika dan pendidikan. Dalam peringatan HUT ke-52 Ikatan Purnakarya Pendidikan dan Kebudayaan (IPPK) Jawa Tengah yang digelar di Taman Krida Kudus, Selasa, 29 Juli 2025, kesenian ini tampil memukau di hadapan ratusan peserta dari berbagai daerah di Jateng.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal seperti wayang klithik agar nilai-nilai moral dan etika tidak punah di tengah generasi muda.
“Wayang klithik itu bukan sekadar tontonan. Ada etika, sopan santun, dan pendidikan moral yang dikemas dalam cerita,” ujar Sam’ani.
Ia berharap pertunjukan tradisional seperti ini bisa terus berkembang, bahkan bisa menembus panggung nasional hingga internasional.
“Wayang klithik hanya ada satu-satunya di Wonosoco. Kita ingin kesenian ini mendunia,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Ketua Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Kudus, Trisno Suwandi.
Ia menyebut, Kudus dipilih sebagai pusat kegiatan IPPK karena dianggap memiliki potensi budaya yang kuat dan konsisten menjaga tradisi.
“Kudus satu-satunya kabupaten yang punya wayang klithik asli. Tahun depan akan kita sebar ke karesidenan-karesidenan agar gaungnya makin luas,” jelasnya.
Trisno juga menyoroti keunikan cerita dalam pertunjukan, seperti babad Sunan Kudus yang sarat keteladanan dan nilai-nilai kebhinekaan.
“Misalnya, ketika Sunan Kudus berdakwah membawa sapi ke masjid. Itu simbol toleransi yang dijelaskan lewat cerita wayang,” ungkapnya.
Dalang wayang klithik asal Kudus, Sutikno, berharap dukungan dari pemerintah tidak berhenti di pertunjukan seremonial.
“Kami butuh ruang tampil, pelatihan, regenerasi. Supaya wayang klithik tidak vakum dan terus berkembang,” katanya.
Jurnalis: Mohammad Fahtur Rohman
Editor: Sekar S





























