KUDUS, Lingkarjateng.id – Sebanyak 36 sekolah tingkat SMP dan SMA sederajat di Kabupaten Kudus mengikuti babak penyisihan Festival Teater Pelajar (FTP) XVI 2026 yang berlangsung pada 9–17 Oktober 2026. Para peserta bersaing menampilkan karya terbaik demi mengamankan tempat di babak final pada November mendatang.
Festival tahunan tersebut menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan kreativitas seni peran sekaligus mengasah kemampuan bekerja sama, membangun kepercayaan diri, dan menyampaikan gagasan melalui pertunjukan teater.
Perwakilan dewan juri FTP XVI 2026, Wijayanto Prasetyo, menyebutkan bahwa peserta tahun ini terdiri atas 15 SMA/MA sederajat dan 21 SMP/MTs sederajat di Kabupaten Kudus.
Seluruh peserta menjalani tahap penyisihan untuk memperebutkan tiket menuju babak final yang dijadwalkan berlangsung pada 19–22 November 2026.
Menurut Wijayanto, FTP tidak sekadar menjadi kompetisi untuk menentukan kelompok teater terbaik. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada pelajar untuk mengembangkan ide, memahami naskah, serta mengeksplorasi kemampuan gerak dan vokal.
“Peserta dilibatkan langsung dalam setiap tahapan dari pengembangan ide, pendalaman naskah, hingga olah gerak dan suara di atas panggung,” ujar Wijayanto.
Ia menegaskan, kualitas karya menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan festival tahun ini. Selain mendorong kreativitas, teater dinilai memiliki peran dalam pembentukan karakter dan pengembangan keterampilan sosial pelajar.
“Teater bisa jadi ruang belajar dan memberi pengalaman berharga, latihan, kemampuan mengenali diri, berkomunikasi dan membangun keberanian,” katanya.
Juri FTP XVI lainnya, Idham Ardi Nurcahyo, mengatakan sebuah pertunjukan teater tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menghibur penonton. Pesan dan gagasan yang ingin disampaikan melalui cerita juga harus menjadi perhatian para peserta.
Menurutnya, berbagai unsur emosi, mulai dari humor hingga kesedihan, dapat digunakan untuk membantu penonton memahami persoalan yang diangkat dalam pertunjukan.
“Unsur humor, kesedihan, dan berbagai emosi juga bisa membuka jalan penyampaian pesan, jadi penonton tidak hanya tertawa, tetapi memahami pesannya,” paparnya.
Pendekatan tersebut mendorong peserta untuk tidak hanya memperhatikan aspek teknis pementasan, tetapi juga memperkuat makna cerita agar dapat diterima oleh penonton.
Salah satu peserta FTP XVI 2026, MTs NU Banat Kudus, menghadirkan pementasan berdasarkan naskah Pusaran karya Makhasin.
Sutradara Teater Kusuma Jagad MTs NU Banat Kudus, Khansa Tabris Izzati, mengatakan karya tersebut mengangkat pertanyaan mengenai kehidupan manusia dan pilihan-pilihan yang dihadapi dalam menjalani kehidupan.
Naskah itu menghadirkan lima tokoh, yakni Ibu, Pelamun, Pencopet, Pengelana, dan Pengemis. Masing-masing tokoh menggambarkan manusia dengan latar pengalaman dan cara bertahan hidup yang berbeda, sekaligus membawa persoalan sosial yang lebih luas.
“Pusaran bukan hanya pertunjukan yang ingin ditampilkan di atas panggung. Ini adalah ruang untuk bertanya pada diri kita, mengapa kita sering mengikuti arus, takut berbeda, dan terkadang tidak tahu ke mana harus melangkah,” ungkapnya.
Khansa berharap keterlibatan kelompoknya dalam festival tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas pengalaman dan pengetahuan melalui seni teater.
Baginya, proses berteater bukan hanya tentang keberanian tampil di hadapan penonton, melainkan juga pembelajaran untuk memahami manusia, emosi, gerak, suara, serta berbagai persoalan kehidupan.
Jurnalis: Nisa Hafidzotus S.
Editor: Muslichul Basid






























