UNGARAN, Lingkarjateng.id – Kepala Resort Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGB) Wilayah Kopeng, Nur Khozin menyampaikan kondisi terkini bencana alam kebakaran hutan di Gunung Merbabu, di mana masih ada tiga titik api yang belum bisa dipadamkan.
Nur Khozin saat ditemui di Posko Batur Reaksi Cepat (BCR) yang ada di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, mengatakan bahwa saat ini masih ada tiga titik api yang masih belum bisa dipadamkan oleh tim gabungan yang melakukan pemadaman secara manual itu.
“Saat ini masih ada tiga titik api di tiga wilayah di Desa Tajuk, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Dimana tiga titik api itu ada di Dusun Pulihan, Dusun Pager Wetan, dan Dusun Gedong yang ada di Desa Tajuk, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang,” katanya kepada Lingkar, pada Minggu, 29 Oktober 2023.
Ia juga menyebutkan, untuk wilayah dusun yang paling parah banyak titik api dan dikepung asap tebal dampak dari kebakaran Gunung Merbabu itu ada di Dusun Pulihan, Desa Tajuk, Kecamatan Getasan.
“Untuk Dusun Pulihan di Desa Tajuk itu yang paling parah, apinya cukup besar karena bahan bakar atau gas di sana sudah sangat banyak sehingga memicu api semakin menyebar luas di wilayah tersebut. Ditambah angin yang berhembus sangat kencang dan medan curam, serta banyak dedaunan kering. Jadi untuk pemadaman sangat sulit dilakukan,” jelasnya.
2 Dapur Umum Disiapkan Suplai Makanan Warga Terdampak Kebakaran Gunung Merbabu
Meski demikian, Nur Khozin mengutarakan bahwa hutan yang terbakar di Gunung Merbabu itu tidak sampai merembet ke pemukiman dan lahan pertanian milik warga sekitar.
“Semuanya masih masuk di wilayah kawasan, sehingga tidak masuk ke wilayah pemukiman atau lahan pertanian warga. Tapi memang kondisinya khusus di Dusun Pulihan ini api begitu banyak,” sebutnya.
Dari pantauan Lingkar di lapangan, tampak terlihat asap membutbung tinggi hingga berwarna hitam keabuan, hal ini diungkapkan Nur Khozin karena titik api di kawasan Dusun Pulihan, Desa Tajuk ini begitu banyak.
“Jadi awalnya ada empat titik api yang muncul di hutan Gunung Merbabu ini, yakni 3 wilayah di Desa Tajuk, yaitu Dusun Pulihan, Pager Wetan, dan Dusun Gedong. Lalu ada satu wilayah di Desa Batur, yakni di Thekelan,” paparnya.
Namun, lanjutnya untuk wilayah Thekelan sendiri sudah berhasil dipadamkan sebagian, dan sebagian lagi hanya tinggal beberapa titik api yang ada di jurang.
“Thekelan sebenarnya sudah berhasil dipadamkan apinya, tapi masih ada beberapa titik, itu pun berada di jurang. Karena kami mengutamakan keselamatan para relawan yang memadamkan api, makanya kami anggap sudah dapat di atasi, meski masih ada beberapa titik di jurang-jurang yang ada di Thekelan,” ujarnya.
Dengan demikian, para relawan yang melakukan pemadaman api di Thekelan dialokasikan dikirim ke ke tiga titik api yang ada di Desa Tajuk, khususnya di Dusun Pulihan.
“Semoga dengan bertambahnya personil relawan yang kami kirim ke Dusun Pulihan, api disana bisa dipadamkan dan bisa meminimalisir asap yang turun ke pemukiman warga. Karena memang kondisi di hutan yang masuk wilayah Dusun Pulihan ini api sangat besar,” tegasnya.
Total saat ini sudah ada 214 relawan yang dikerahkan untuk memadamkan api di Gunung Merbabu itu. Berdasarkan pantauan Lingkar di lapangan pada sore ini, awan mendung sudah menyelimuti area Gunung Merbabu meski hujan belum juga turun hingga kini
Disisi lain, diungkapkan oleh Camat Getasan yakni Slamet Widodo yang menyebutkan jumlah lahan hutan yang terbakar di Gunung Merbabu itu ada 400 hektare.
“Jadi total luasan lahan hutan di Gunung Merbabu ini yang terbakar ada 400 hektare, dan 400 hektare lahan hutan yang terbakar itu semuanya masuk wilayah Kabupaten Semarang, tepatnya di Kecamatan Getasan, atau di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM). Meski imbas dari kebakaran di Gunung Merbabu ini juga masuk di wilayah lain yakni di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali,” paparnya.
Camat Getasan itu juga menyampaikan bahwa kebakaran hutan di Gunung Merbabu ini yang paling besar selama ia menjabat sebagai Camat Getasan.
“Paling besar setahu saya, selama saya menjabat. Ya semoga bisa segera ditangani,” harapnya.
Slamet Widodo juga menyebutkan jika saat ini ada total 85 warga yang mengungsi dari jumlah 91 warga yang mengungsi sebelumnya.
“Saat ini ada 85 warga yang mengungsi di pengungsian Balai Desa Batur ini, karena yang 6 sudah diambil pihak keluarganya jadi pindah ke tempat saudaranya, dan 85 ini bertahan di pengungsian Balai Desa Batur ini,” sebutnya.
Sebanyak 85 warga yang mengungsi di pengungsian itu berasal dari dua dusun yang terdampak paling parah dari kebakaran hutan di Gunung Merbabu itu.
“Mereka ini berasal dari Dusun Gedong dan Dusun Ngaduman, yang ada di Desa Tajuk, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Jadi ditempat mereka tinggal itu dikepung asap tebal dan abu, jadi mereka mengungsi karena sebagian besar lansia, anak-anak, dan wanita ini mengalami sesak nafas,” tukasnya. (Lingkar Network | Hesty Imaniar – Koran Lingkar)
































