DEMAK, Lingkarjateng.id – Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak terdapat 15 sekolah negeri minim murid baru pada tahun ajaran 2025/2026. Lantas apa penyebab minimnya murid di lembaga pendidikan tersebut?
SD Negeri Bintoro 14, misalnya, hanya memiliki empat murid. Menurut salah satu guru, Lilik Wiyastuti, ada sejumlah faktor yang membuat siswa di sekolahnya hanya sedikit. Salah satunya karena kondisi geografis.
“Ini karena memang sering banjir, selain itu lokasinya di pinggir sungai sehingga sehari hujan sudah banjir. Jadi itu mungkin penyebabnya orang tua anak-anak memilih SD sebelahnya yang nggak begitu banjir,” jelasnya, Kamis, 17 Juli 2025.
Pada tahun ini, kata Lilik, terjadi penurunan jumlah murid baru yang cukup signifikan. Pada tahun 2024 memiliki 10 siswa, kini hanya empat siswa.
“Kalau dari sini kan emang yang daftar dari rumahan, bukan dari TK. Kalau dari TK daftarnya langsung ditarik dari dapodik, itu kebanyakan kemarin daftarnya ke SD 10,” jelasnya.
Kendati saat ini hanya ada empat siswa baru, pihaknya menyebut masih ada kemungkinan siswa bertambah.
“Insyaallah, biasanya ada. Biasanya kalau sudah berlangsung tahun ajaran baru, ada tambahan dari panti atau lainnya,” sambungnya.
Kondisi serupa juga terjadi di SDN Bintoro 16. Seperti disampaikan guru kelas satu, Sri Shofiati, setiap tahun ajaran baru terjadi penurunan jumlah siswa.
Menurut Sri, menurunnya jumlah siswa baru setiap tahun karena lokasi sekolah yang berada di tengah perkampungan sehingga aksesnya sulit dijangkau masyarakat.
“Mungkin karena sekolah kami berada di tengah-tengah desa jadi kan sulit dijangkau. Sementara di sekitar sekolah kami ada sejumlah SD yang mudah diakses karena dekat jalan raya,” terangnya.
Kemungkinan lainnya, kata dia, yakni dipicu program keluarga berencana yang sukses sehingga anak usia sekolah dasar memang minim.
“Penduduk di sekitar SD ini sebagian besar tidak ada anak-anak yang usia sekolah SD,” sambungnya.
Faktor lainnya, menurutnya, dipicu pasangan muda yang lebih memilih menyekolahkan anak di sekolah berbasis agama. Kendati minim murid, semangat mengajar dan semangat siswa untuk belajar tetap tinggi.
“Karena muridnya sedikit maka perhatian guru kepada murid itu lebih fokus ketimbang ketika muridnya banyak,” tuturnya.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Ulfa






























