BATANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang menyiapkan menyiapkan sejumlah strategi untuk menangani ancaman darurat sampah di wilayah setempat. Pasalnya, daya tampung TPA Randukuning kian terbatas sementara produksi sampah mencapai saat ini mencapai sekitar 185 ton per hari.
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, menegaskan pihaknya tidak hanya menitikberatkan penanganan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R), tetapi juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah tangga.
“Kita sudah memiliki TPS 3R yang berjalan dengan baik, seperti di Kalipucang dan Warungasem. Desa Pesaren juga sudah pernah berjalan, meskipun belum maksimal,” katanya saat ditemui di Kantor Bupati Batang, Kabupaten Batang, Rabu, 25 Februari 2026.
Menurut Faiz, operasional TPS 3R merupakan bagian dari penanganan di sektor hilir. Sementara pada sisi hulu, pihaknya berupaya membangun kesadaran kolektif warga sekaligus memperkuat manajemen pengelolaan sampah di tingkat desa.
“Pemkab Batang juga telah berdiskusi dengan para kepala desa untuk menyiapkan mekanisme pengelolaan, termasuk pengaturan tipping fee serta sistem pengambilan sampah yang lebih tertata,” jelasnya.
Salah satu TPS 3R yang dinilai berkembang cukup baik berada di Kalipucang. Meski demikian, masih terdapat sekitar 7,2 persen residu sampah plastik yang belum tertangani secara optimal.
“Ke depan, sisa sampah plastik tersebut direncanakan akan dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse-Derived Fuel (RDF), bahkan berpotensi diolah menjadi pupuk cair. Saat ini, rencana tersebut masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study), dengan target masuk tahap desain dan konstruksi pada tahun depan,” terangnya.
Selain penguatan infrastruktur, Pemkab Batang juga mengkaji kemungkinan penerapan pola pengelolaan sampah seperti yang diterapkan di Jepang melalui skema penjualan kantong sampah oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Dalam skema tersebut, warga membeli kantong sampah khusus yang kemudian diletakkan di depan rumah sesuai jadwal pengangkutan yang telah ditentukan.
“Dengan skema tersebut, volume sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga dapat lebih terkontrol karena jumlah kantong yang digunakan berbeda-beda, menyesuaikan produksi sampah masing-masing,” ujarnya.
Melalui penguatan sistem dari hulu hingga hilir ini, Faiz berharap efektivitas pengelolaan sampah meningkat serta partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan semakin kuat.
Sumber: Humas Pemkab Batang
Editor: Rosyid






























