PATI, Lingkarjateng.id – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kayen pada Senin, 5 Mei 2025.
Dalam kesempatan itu, Komisi D DPRD Pati menemukan sejumlah kendala yang dialami RSUD Kayen, seperti antrean penebusan obat yang panjang.
“Tadi banyak saya melihat obat yang masih agak lama. Jadi memang kendala tenaga sih, kami tidak menyalahkan itu, pasien ternyata sehari hampir 150-200,” ungkap Ketua Komisi D DPRD Pati, Teguh Bandang Waluyo.
Selain itu, Komisi D DPRD Pati juga menemukan ruang cuci darah yang kurang memadai dan diperparah dengan sedikitnya alat hemodialisa (HD) untuk cuci darah. Mereka pun berencana mengusulkan penambahan alat hemodialisa ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati.
“Nah, kita hari ini juga menjadi prioritas adalah gedung terkait cuci darah. Ternyata alatnya cuma 6, gedungnya kurang bagus, kami berharap nanti kita bisa berbicara dengan Pak Sekda, tim TAPD, terutama terkait tempat cuci darah,” ungkapnya.
Selanjutnya, lanjut Bandang, pihaknya juga menemukan belum tersedianya lahan parkir di RSUD Kayen lantaran rencana pembangunannya yang sudah dicanangkan sejak 2020 lalu tidak terealisasi. Di tahun anggaran perusahaan nanti, pihaknya bakal mengusulkan proyek pembangunan bangunan parkir.
“Karena ada refocusing, sehingga tidak bisa. Tetapi ini sebagai catatan betul bagi teman-teman Komisi D dengan RSUD Kayen. Nanti di perubahan ini ada perencanaan, supaya di 2026 bisa realisasi. Tapi tidak harus besar 4 lantai, karena mengingat anggarannya juga luar biasa,” jelasnya.
Jajaran Komisi D DPRD Pati juga mengapresiasi fasilitas kesehatan yang tersedia di RSUD Kayen. Menurut Bandang, pelayanan yang diberikan sudah bagus dan tempatnya bersih serta nyaman.
“Kami cek dari mulai UGD tempat pendaftaran, sampai kita naik ke lantai 4,5 kamar inap dan semuanya saya melihat luar biasa. Bersihnya luar biasa, tempatnya bagus, nyaman, pasien betul-betul nyaman,” ucapnya.
Direktur RSUD Kayen, Bambang Santoso, mengatakan bahwa pihaknya sudah menyediakan lahan parkir sementara. Namun, tempat parkir tersebut masih diperuntukkan bagi pegawai RSUD Kayen saja mengingat belum adanya pembangunan.
“Lokasinya di tempat parkir belakang KUA, itu kemarin sudah kita beton pada saat tahun 2023, tadinya kan masih tanah itu, karena di situ juga untuk upacara. Jadi untuk parkir karyawan dulu, pasien yang belum. Ini mikir baru perencanaan,” katanya.
Terkait dengan antrean panjang di loket penembusan obat, pihaknya membenarkan bahwa sejumlah tenaga farmasi yang bertugas sudah pindah ke fasilitas kesehatan lain usai diterima menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).
“Ya memang kami kekurangan tenaga di farmasi. Karena tenaga-tenaga yang keterima PPPK di Puskesmas atau di RS yang lain, sehingga tenaga kami berkurang,” ucapnya. (Lingkar Network | Setyo Nugroho – Lingkarjateng.id)





























