KUDUS, Lingkarjateng.id – Sebanyak 106 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah berdiri di Kabupaten Kudus. Namun, belum semua dapur makan bergizi gratis (MBG) tersebut beroperasi.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menargetkan seluruh SPPG bisa beroperasi secara maksimal pada pertengahan tahun 2026.
“Harapan kami, tahun 2026 semua dapur sudah aktif. Dampaknya luar biasa, bukan hanya bagi anak-anak tapi juga bagi perekonomian masyarakat Kudus,” kata Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris beberapa waktu lalu.
Pemkab Kudus awalnya merencanakan 81 titik SPPG. Kemudian, jumlahnya meningkat menjadi 106 SPPG yang terbagi di sembilan kecamatan.
“Kalau semula satu SPPG melayani sekitar tiga ribuan anak, nanti dikurangi menjadi dua ribuan. Karena itu jumlah SPPG naik jadi 106 titik,” jelasnya.
Menurut Bupati, program MBG sejauh ini mampu mendorong pertumbuhan sektor lokal seperti petani, peternak, dan pelaku UMKM yang menjadi pemasok bahan makanan di sekitar dapur MBG.
“Dampak ekonomi sangat terasa. Program ini tidak hanya memberi gizi untuk anak-anak, tapi juga menghidupkan roda ekonomi di bawah,” ungkapnya.
Untuk meningkatkan pengawasan, lanjutnya, seluruh jaringan kamera pengawas atau CCTV di SPPG setempat akan segera terkoneksi dengan aplikasi Kudus Sehat milik pemerintah daerah.
“Dari BGN kita sudah berizin supaya ada komunikasi yang baik dan sistem pengawasan berjalan, salah satunya lewat kamera pengawas ini,” terangnya.
Sam’ani menilai pengawasan berbasis teknologi penting untuk memastikan setiap menu MBG yang disajikan tetap higienis dan layak konsumsi.
“Ini bagian dari upaya menjaga agar makanan yang diterima siswa selalu dalam kondisi baik, sehat, dan bergizi,” ujarnya.
Jurnalis: Nisa Hafizhotus Syarifa
Editor: Ulfa
































