SEMARANG, Lingkarjateng.id – Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah (Jateng), Messy Widiastuti, menyebut program Sekolah Rakyat di provinsi setempat belum sepenuhnya dapat beroperasi. Hal ini karena Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Tengah masih menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat.
“Sementara ini, sepengetahuan saya, seharusnya dikelola oleh Dinas Pendidikan, tetapi ternyata melalui Dinas Sosial. Sehingga Dinsos juga harus mencari panduan ke pusat supaya tidak salah langkah,” ujar Messy saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu, 6 Agustus 2025.
Messy menjelaskan, Sekolah Rakyat ditujukan bagi siswa dari keluarga miskin kategori desil 1 dan desil 2. Nantinya, seluruh kebutuhan pendidikan siswa akan ditanggung pemerintah.
“Karena para siswa itu boarding school, maka kebutuhan mulai dari makan, seragam, dan lainnya sudah disiapkan pemerintah. Harapannya, anak-anak yang diterima di situ benar-benar berasal dari keluarga miskin,” jelasnya.
Namun, Messy menyoroti kurangnya pemanfaatan program tersebut di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Menurutnya, ada siswa yang memilih mengundurkan diri karena merasa tidak betah tinggal di Sekolah Rakyat.
“Sudah disediakan tempat, dirawat, dan dibuatkan sekolah gratis, itu kan untuk menurunkan angka kemiskinan. Tapi masih saja ada yang berulah. Kalau saya sebagai orang kuno, dapat fasilitas ya saya tekuni sampai selesai,” tegasnya.
Messy juga mengungkapkan rendahnya minat masyarakat terhadap program kemitraan Pemprov Jateng dengan sekolah swasta dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026.
Program ini menambah kuota 5.500 anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa sekolah gratis, tetapi tidak banyak yang memanfaatkannya.
“Pemprov Jateng sudah menambahkan kuota 5.500 anak supaya bisa sekolah gratis, tapi itu saja tidak banyak yang masuk. Mereka maunya sekolah di negeri. Nah, itu memang keadaan di Jawa Tengah, sudah dikasih fasilitas tapi dianggurkan,” tandasnya.
Sebagai informasi, Pemprov Jateng telah menyiapkan lima sentra Sekolah Rakyat yang akan membuka pendaftaran, yakni Sentra Baturaden di Banyumas, Sentra Kartini di Temanggung, Sentra Prof. Suharso di Solo, Sentra Antasena di Magelang, dan Sentra Margo Laras di Pati.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid






























