SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi mencatatkan capaian positif yang melampaui rata-rata nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Jateng pada triwulan IV tahun 2025 mencapai 5,37% (y-on-y).
Angka tersebut memposisikan provinsi ini di atas rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di angka 5,11%. Capaian ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Jawa.
Ahmad Luthfi genap satu tahun memimpin Jawa Tengah sebagai gubernur pada 20 Februari 2026. Bersama wakilnya, Taj Yasin Maimoen, Luthfi berhasil mengatasi berbagai dinamika daerah, termasuk serangkaian bencana hidrometeorologi seperti longsor, rob, hingga banjir dengan langkah-langkah komprehensif mulai dari penanganan darurat hingga pemulihan pasca bencana.
Terlepas adanya bencana alam, program-program kepemimpinan Luthfi-Yasin dinilai tetap terlaksana dengan baik dan berdampak pada kemajuan wilayah. Selain pertumbuhan ekonomi, nilai realisasi investasi Jawa Tengah pada tahun 2025 mencapai Rp88,50 triliun, yang terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun. Angka ini menjadi capaian tertinggi dalam 10 tahun terakhir dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 418.138 orang.
Peningkatan ekonomi ini juga berimplikasi positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Data BPS menunjukkan angka kemiskinan di Jawa Tengah berhasil ditekan dari 9,48% pada Maret 2025 menjadi 9,39% pada September 2025. Jumlah penduduk miskin pada September 2025 berkurang sebanyak 21,87 ribu orang dibanding Maret 2025. PDRB per kapita masyarakat Jateng kini mencapai Rp50,82 juta, naik 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara tingkat pengangguran terbuka terjaga pada angka 4,32%.
Kepemimpinan Luthfi-Yasin selama setahun ini juga getol menggandeng berbagai stakeholder: mulai dari bupati/walikota, puluhan perguruan tinggi, pengusaha, investor, provinsi tetengga, negeri-negara sahabat, organisasi masyarakat, tokoh masyarakat, dan lainnya. Langkah ini disebut Luthfi sebagai collaborative government (pemerintahan kolaboratif).
“Kita gandeng beberapa kampus dan seluruh potensi masyarakat. Collaborative government ini cara bersama-sama untuk membangun Jawa Tengah,” ucap Luthfi, beberapa waktu lalu.
Menurutnya prinsip pemerintahan kolaboratif memang perlu dijalankan. Sebab, pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, kolaborasi, dan kerja sama tim menjadi nafas yang dimiliki oleh Jawa Tengah.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyadari masih ada pekerjaan rumah pada sektor Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang saat ini berada di angka 74,77.
“Angka kemiskinan kita bisa turunkan, kita semakin baik, maka ini harus perlu kita tingkatkan,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin beberapa waktu lalu.
Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin ini menyatakan, momentum pertumbuhan yang berada di atas nasional ini harus terus dijaga dan diarahkan untuk program-program yang menyentuh masyarakat bawah.
“Penurunan angka kemiskinan harus kita masifkan lagi. Anggaran harus mengarah kepada penurunan kemiskinan secara bersama-sama, termasuk memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi kelompok disabilitas, agar kualitas hidup mereka meningkat,” tegasnya.
Gus Yasin mencontohkan pada Agustus 2025 lalu, sebanyak 2.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Brebes resmi keluar dari data kemiskinan. Mereka tidak lagi menjadi penerima bantuan sosial (bansos) dan siap hidup mandiri.
Salah satu peserta graduasi kemiskinan di Brebes, Setia Puji, mengaku bahwa ia menerima bansos dari tahun 2020-2025. Ia sempat tidak memiliki penghasilan usai kembali dari ibu kota. Kemudian, Setia bertekad untuk mengembangkan usaha bakso keliling. Kini usahanya semakin berkembang, dan ia mampu mencukupi kebutuhan keluarganya sendiri.
“Bantuan yang diberikan kemarin sangat meringankan beban kami. Akan tetapi, motivasi saya (harus) bisa mandiri. Kini ekonomi kami lebih mampu,” katanya.
Berbagai upaya kolaboratif yang dilakukan oleh Luthfi-Yasin dalam menggenjot investasi dan menumbuhkan ekonomi di wilayahnya menuai banyak apresiasi. Salah satunya dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan.
Luhut mengapresiasi upaya kolaborasi dan kerja sama yang dilakukan oleh Gubernur Jateng dalam membangun daerahnya, khususnya dalam upaya menumbuhkan perekonomian dan meningkatkan investasi.
Tercatat, Pemprov Jateng meraih setidaknya 40 penghargaan dari berbagai lembaga selama 2025.
Editor: Tia






























