JEPARA, Lingkarjateng.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara mencatat, dampak banjir yang melanda wilayah Jepara sejak pertengahan Januari 2026 menyebabkan ribuan hektar sawah mengalami gagal panen atau puso.
Kepala DKPP Kabupaten Jepara, Mudhofir, mengungkapkan bahwa berdasarkan data hingga 21 Januari 2026, total lahan sawah terdampak banjir mencapai 3.921 hektar.
Dari jumlah tersebut, 3.861 hektar telah terdata, dengan rincian 2.807 hektar dinyatakan puso, sementara 1.054 hektar lainnya dinyatakan selamat.
Adapun wilayah dengan tingkat kerusakan paling parah berada di Kecamatan Kalinyamatan dengan luas mencapai 742 hektar, disusul Welahan 653 hektar, Pecangaan 350 hektar, Kedung 286 hektar, Keling 234 hektar, dan Mayong 147 hektar.
Sementara kecamatan lain yang turut terdampak antara lain Donorojo 115 hektar, Bangsri 85 hektar, Mlonggo 65 hektar, Tahunan 39,5 hektar, Jepara 33 hektar, Kembang 30 hektar, Nalumsari 27 hektar, serta Batealit 1 hektar.
“Kerusakan hampir merata di seluruh kecamatan,” katanya.
Selain itu, lanjut Mudhofir, terdapat sekitar 70 hektar tanaman padi yang tidak dapat dimasukkan dalam data puso. Lantaran lahan tersebut berada di area pinggiran sungai atau lambiran yang statusnya bukan hak milik.
“Lahan ini tidak ada tupinya dan penerima bantuannya tidak jelas, sehingga tidak bisa kita klaimkan sebagai data puso,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa, mayoritas tanaman padi yang terendam banjir berusia sekitar satu bulan, sehingga petani dipastikan mengalami kerugian total. DKPP memperkirakan nilai kerugian akibat bencana ini mencapai sekitar Rp25,2 miliar, dan seluruhnya tidak tercover asuransi pertanian.
Terkait bantuan bagi petani terdampak, Mudhofir menyebutkan hingga saat ini pihaknya masih menunggu kepastian.
“Penganggaran bukan di kami. DKPP hanya mengajukan bantuan berupa benih dan pupuk. Jika merujuk pengalaman sebelumnya, biasanya bantuan yang diberikan berupa benih,” katanya.
Pihaknya pun telah mengajukan bantuan ke pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, namun hingga kini belum ada kepastian waktu penyalurannya.
“Kita masih menunggu, baik bentuk bantuan maupun kapan realisasinya,” pungkasnya.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Sekar S
































