SALATIGA, Lingkarjateng.id – Warga yang bermukim di sekitar simpang tiga ABC, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Salatiga, meminta pemerintah daerah untuk mengkaji ulang keberadaan traffic light di lokasi tersebut. Pasalnya, persimpangan ini dinilai rawan kecelakaan, terlebih setelah insiden tragis pada Senin, 11 Agustus 2025 lalu, ketika truk tronton diduga rem blong menabrak lima kendaraan dan menewaskan satu orang.
Masyarakat berharap kajian tersebut segera dilakukan, mengingat jalur ini merupakan akses utama yang menghubungkan pusat Kota Salatiga dengan wilayah Kabupaten Semarang dan jalur nasional.
Sejumlah warga mengungkapkan bahwa pengaturan lalu lintas di simpang tersebut sering membingungkan pengendara, khususnya kendaraan berat yang melaju dari arah utara ke selatan.
“Kalau lampu merah, truk-truk itu harus berhenti di turunan. Risikonya tinggi, apalagi kalau rem tidak berfungsi maksimal,” ujar Supriyadi, warga Ledok, Kecelakaan Argomulyo, Kamis, 14 Agustus 2025.
Selain faktor teknis kendaraan, warga juga menyoroti durasi lampu merah yang dinilai terlalu lama, sehingga memicu penumpukan kendaraan. Kondisi ini kerap membuat pengendara nekat menerobos atau berhenti mendadak, yang berpotensi menimbulkan tabrakan beruntun.
Warga lain, Burhan menyarankan agar Dinas Perhubungan dan kepolisian melakukan evaluasi menyeluruh.
“Bisa jadi solusinya bukan sekadar memindahkan atau mematikan lampu lalu lintas, tapi juga merancang jalur alternatif atau sistem pengaturan yang lebih aman,” katanya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Sekar S































