SEMARANG, Lingkarjateng.id – Banjir bandang menerjang empat daerah di wilayah lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah, di antaranya Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal. Peristiwa itu terjadi pada Jumat Jumat (23/1) hingga Sabtu (24/1) dini hari. Berikut fakta-faktanya.
Belasan Rumah Rusak di Bumiayu Brebes
Di Brebes, banjir bandang melanda sejumlah desa di Kecamatan Bumiayu pada Jumat (23/1) pukul 22.00 WIB. Desa yang terdampak berada di lereng Gunung Slamet yakni Desa Penggarutan, Adisana, dan Dukuhturi.
Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Brebes, Wibowo Budi Santoso, mengatakan banjir besar menyebabkan jalan kabupaten antara Desa Adisana-Cilibur rusak tergerus air.
Selain itu, di Desa Adisana, beberapa rumah warga juga rusak akibat luapan Kali Reong Dukuh Glempang Adusana rusak.
“Hujan deras pada Jumat kemarin, menyebabkan sungai sungai meluap. Paling para luapan Kali Keruh, karena ada belasan rumah rusak dan ada yang hanyut terbawa arus,” ungkap Wibowo seraya menambahkan saat ini pihaknya masih melakukan asesmen di lokasi kejadian, Sabtu (24/1/2026).
Rumah yang rusak dan hilang itu merupakan rumah di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Keruh tepatnya RT 01, 05 RW 1 Desa Dukuhturi. Pantauan Sabtu pukul 09.00 WIB, aliran sungai sudah kembali normal.
Pemandian Air Panas di Guci Tegal Kembali Luluh Lantak
Di Kabupaten Tegal, banjir bandang menerjang kawasan wisata alam Guci pada Sabtu (24/1) sekitar pukul 02.00 WIB. Kolam air panas yang ada di kawasan ini hancur dan tiga jembatan di lokasi wisata putus.
Ini merupakan banjir bandang kedua usai banjir bandang pada 20 Desember 2025 lalu yang juga menghancurkan pemandian air panas di sana. Pemandian yang baru selesai diperbaiki hilang lagi akibat bencana banjir bandang.
Satgas Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal, M Wisnu Imam, menjelaskan banjir bandang kali ini menyebabkan kerusakan sangat parah.
Pancuran kolam air panas yang ada semuanya rata dengan tanah tersapu banjir. Demikian pula tiga jembatan di kawasan tersebut semuanya putus. Kemudian alat berat juga ikut tersapu banjir.
“Banjir bandang Kali Gung menyebabkan Pancuran 13 rata dengan tanah, jembatan besar juga roboh. Pancuran Barokah juga sudah rata tanah, Pancuran Lima juga sama. Jembatan gantung di pancuran lima juga sudah hanyut. Satu alat berat beko di pancuran 13 juga hanyut,” jelas Imam, Sabtu (24/1).
Taufik, warga RT 04, RW 02 Desa Guci menyebut banjir bandang terjadi akibat hujan deras sejak Jumat (23/1). Air disebut sudah meluap sejak sore dan puncaknya terjadi Sabtu dini hari.
“Awalnya hanya hujan deras. Namun tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Air langsung datang besar dan keruh,” kata Taufik.
Puncaknya terjadi pada Sabtu, pukul 02.00 WIB dini hari. Tinggi air dilaporkan mencapai sekitar tujuh meter, membuat jembatan tak mampu menahan derasnya arus bercampur lumpur dan pasir.
“Air naik sangat cepat. Jembatan yang biasa dilewati wisatawan tidak kuat menahan hantaman air yang membawa material lumpur dan pasir,” lanjut Taufik.
1 Orang Tewas dan Ratusan Warga Mengungsi di Pemalang
Di Pemalang banjir bandang terjadi di bantaran Sungai Penakir Desa Nyalembeng, Kecamatan Pulosari, pada Jumat (23/1) malam. Material banjir berupa lumpur, bebatuan besar, kayu gelondongan, dan sampah memporak-porandakan permukiman warga.
Relawan Komunitas Pemalang Bersatu, Hengky Kurniawan, menyampaikan wilayah perkampungan Sawangan menjadi titik terparah. Di sana ada 10 rumah yang rusak dan 4 mobil hanyut.
Camat Pulosari, Arif Seno Aji, menyebut hingga Sabtu (24/1) siang ada sekitar 300 orang mengungsi. Mereka dievakuasi dari bantaran sungai lantaran terdampak banjir dan khawatir banjir susulan datang.
“Ada sekitar 300 warga mengungsi di Kecamatan (kantor kecamatan),Gedung NU, dan TK Pulosari,” ucapnya.
Arif juga mengonfirmasi adanya satu korban tewas akibat banjir bandang. Korban laki-laki ini ditemukan tidak bernyawa di antara material sisa banjir di wilayah Dusun Tretep, Desa Sima, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Jumat (23/1) malam.
“Identitas atas nama umur 33 tahun, warga Desa Penakir. Masih di Rumah Sakit Moga,” ungkapnya.
1 Orang Tewas dan 2 Dusun di Purbalingga Terisolir
Di Purbalingga banjir tak kalah mengerikan. Banjir menerjang dua desa di lereng Gunung Slamet pada Sabtu (24/1) dini hari. Sebagian permukiman di Desa Serang, Kecamatan Karangreja dan Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet terdampak kerusakan parah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Revon Haprindiat, menyampaikan banjir bandang di Desa Sangkanayu berdampak pada wilayah RT 13 dan RT 14 RW 05 Dusun 3.
“Data sementara, ada enam rumah terdampak banjir. Tiga rumah mengalami rusak berat dan tiga rumah tertutup material banjir,” kata Revon.
Selain itu, dua jembatan dilaporkan terputus akibat derasnya arus banjir bandang. Banjir juga mengakibatkan sejumlah kendaraan warga hanyut.
“Kendaraan roda dua sebanyak tujuh unit hilang terbawa banjir bandang. Untuk kendaraan roda empat juga ada yang hilang terbawa banjir bandang,” ujarnya.
“Ternak warga sebanyak 20 ekor terbawa banjir bandang,” imbuh Revon.
Selain itu, satu orang ditemukan tewas. Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Purbalingga, Yulianto, membenarkan adanya satu korban meninggal dunia akibat banjir bandang di wilayah tersebut.
Korban bernama Solihah (26). Dia tewas terseret banjir bandang saat berada di rumah. “Betul ada satu yang meninggal dunia tadi setelah dievakuasi terus dibawa ke rumah sakit baru meninggal dunia. Karena posisi lagi istirahat di rumah. Warga Desa Serang,” kata Yulianto.
Terpisah, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, Kuat Waluyo mengatakan selain merusak permukiman banjir tersebut juga memutuskan akses jembatan. Akibatnya warga di dua dusun Desa Serang terisolir.
“Akses jalan kabupaten menuju Dusun Gunung Malang dan Dusun Bambangan terputus karena tertutup material, selain itu jembatan Sungai Bambangan juga putus,” kata Kuat dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (24/1/2026).
Menurut dia, terdapat sejumlah warga yang mengungsi di Dusun Bambangan akibat kejadian ini. Selain itu akses komunikasi juga terhambat akibat aliran listrik terputus.
“Jumlah warga di Dusun Bambangan yang mengungsi sebanyak 110 jiwa dari 31 kepala keluarga. Hingga saat ini hujan masih mengguyur wilayah terdampak, angin kencang juga memutus aliran listrik di Dusun Gunung Malang membuat kesulitan komunikasi,” jelasnya.
Kuat mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan relawan dan warga setempat untuk membentuk Tim Gabungan guna membersihkan material dan membuka akses jalan.
“Kebutuhan mendesak di lapangan antara lain alat berat untuk membuka akses jalur dan logistik makanan untuk para pengungsi,” ungkapnya.

































