REMBANG, Lingkarjateng.id – Pihak SMPN 2 Kragan, Kabupaten Rembang, menjelaskan duduk perkara perundungan yang melibatkan dua siswi yang videonya viral dan menuai sorotan publik.
Kepala Sekolah SMPN 2 Kragan, Sriyanta, mengatakan peristiwa tersebut terjadi pada Rabu pagi, 10 September 2025.
Dia mengaku baru mengetahui kejadian itu pada Kamis dini hari setelah mendapat telepon dari Camat Kragan, Nurwanto.
“Jujur, saya baru tahu tadi pagi fajar dari Pak Camat Kragan Nurwanto,” katanya saat ditemui di sekolah setempat pada Kamis, 11 September 2025.
Sriyanta mengatakan sempat mempertanyakan kepada guru BK mengapa tidak ada laporan terkait peristiwa tersebut, meskipun dirinya berada di sekolah hingga pukul 17.00 WIB dalam rangka persiapan Maulid Nabi.
Dia juga menyebut telah menerima kunjungan dari berbagai pihak, termasuk Puskesmas Kragan 2, Unit Reskrim Polsek Kragan, Babinsa Sumbergayam, hingga DPRD Rembang.
“Rencananya siang ini Pak Camat mau ke sini. Dari Polsek juga minta mediasi besok. Ada dari Dinas Pendidikan, KPAI Rembang, Forkompimcam, dan sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, Guru BK SMPN 2 Kragan, Siti Wachidah, menjelaskan bahwa pihaknya baru mengetahui kejadian tersebut pada Rabu sore dari alumni dan orang tua siswa. Menurutnya, tidak ada siswa yang melapor ke guru BK secara langsung.
“Tadi orang tua kedua belah pihak sudah datang dan sudah dilakukan mediasi,” ungkapnya.
Berdasarkan informasi dari pihak sekolah, peristiwa bermula dari persoalan pribadi antara dua siswi kelas VIII berinisial NL dan ZH. Keduanya diduga terlibat konflik karena saling menyukai seorang siswa kelas VII berinisial D.
“Konfliknya karena rebutan cowok. Pelaku saat ini pacaran dengan siswa kelas VII, sementara korban dulu juga pernah dekat dengan siswa yang sama. Akhirnya saling tantang,” ujar Siti.
Peristiwa terjadi saat jam istirahat sekitar pukul 09.40-10.20 WIB di dalam kelas. Dalam video yang tersebar, tampak dua siswi saling cekcok hingga terjadi kekerasan fisik.
Terlihat pula sebuah benda dilemparkan ke arah mereka, yang menurut pihak sekolah merupakan upaya siswa lain untuk melerai.
“Satu kelas sebenarnya ada di lokasi. Yang melempar ember katanya ingin melerai, bukan ikut mem-bully,” imbuhnya.
Pihak sekolah mengaku telah memberikan pembinaan kepada siswa melalui bimbingan.
Adapun pihak kepolisian dan dinas terkait dijadwalkan melakukan mediasi lanjutan untuk menyelesaikan kasus ini secara menyeluruh.
Respons Cepat Pemkab Rembang
Video perundungan yang terjadi di SMPN 2 Kragan tersebut turut mendapat atensi dari Wakil Bupati dan DPRD Rembang.
Wakil Bupati Rembang, Muhammad Hanies Cholil Barro’, langsung memerintahkan dinas terkait untuk turun tangan.
Pria yang akrab disapa Gus Hanies itu menegaskan pemerintah daerah tidak akan tinggal diam melihat aksi perundungan di lingkungan sekolah.
“Sudah dapat laporan semalam. Hari ini, ditindaklanjuti sama timnya Dindikpora, Dinsos, sama kawan-kawan di Kecamatan Kragan, dan berkolaborasi serta koordinasi dengan Polres,” katanya.
Sementara itu, anggota DPRD Rembang dari Dapil III (Kragan-Sluke), Mohammad Imron, juga angkat bicara terkait video yang beredar.
Dia menilai peristiwa itu sebagai bentuk kenakalan remaja yang harus segera ditangani secara menyeluruh.
“Memang serius dan harus segera ditanggapi. Meskipun kejadiannya di sekolah, itu kan sudah tergolong kenakalan remaja. Harus ditanggapi dengan serius, melibatkan pendekatan antara pihak sekolah dan kerja sama dengan wali murid yang di rumah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan peran orang tua dalam mengontrol anak tetap menjadi hal yang penting.
“Wali murid juga harus berperan aktif untuk mengontrol, bukan harus dipasrahkan kepada pihak sekolah saja. Karena murid di sekolah itu banyak,” katanya.
Imron berharap agar pihak sekolah lebih memperketat pengawasan, khususnya saat jam istirahat.
“Misalnya di waktu istirahat, pihak sekolah harus pastikan tidak ada murid yang keluar pagar sekolah tanpa alasan yang jelas,” pungkasnya.
Jurnalis: Lingkar Network
Editor: Rosyid






























