KUDUS, Lingkarjateng.id – Bocah 9 tahun asal Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Zafira Nur Abida, mengidap penyakit langka protrusio acetabuli, yakni gangguan bola pada tulang panggul yang menjorok ke dalam rongga panggul. Akibatnya ia tidak bisa berjalan sejak lahir.
Tak hanya itu, putri kelima pasangan pasangan Mufliha (51) dan Kaswan (58) juga mengalami obesitas.
Kondisi ini belakangan diketahui Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton, melalui aduan di media sosial.
Wabup Bellinda bersama Camat Kaliwungu, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan Puskesmas Kaliwungu meninjau langsung kediaman Zafira.
“Setelah saya cek, memang dulu sering berobat, tetapi empat tahun terakhir berhenti karena terkendala biaya,” kata Bellinda di lokasi pada Senin, 29 September 2025.
Orang tua Zafira pun mengizinkan putrinya kembali dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Bocah itu kemudian dibawa menggunakan ambulans ke RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus.
Menurut Mufliha, sang ibu, Zafira lahir prematur dengan berat badan rendah. Sejak kecil, ia sudah menjalani serangkaian kontrol medis di RS Mardi Rahayu hingga RSUP dr Kariadi. Namun empat tahun terakhir, pengobatan terhenti karena keterbatasan biaya.
“Dia juga belum pernah sekolah. Biasanya belajar privat di rumah, tapi cepat bosan,” ujarnya.
Keterbatasan gerak membuat Zafira lebih banyak berdiam diri di rumah. Meski begitu, nafsu makannya tetap besar sehingga memicu obesitas. Kini, kondisi fisiknya kian memprihatinkan.
Mendapatkan perhatian pemerintah, Mufliha merasa lega. Ia berharap penanganan medis bisa memperbaiki kondisi sang anak.
“Tentu dengan adanya perhatian dari pemerintah untuk kembali mengobatkan anak saya, saya senang,” ungkapnya.
Sementara itu, dokter spesialis anak RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, Arif Faiza, menyebut kondisi Zafira stabil namun membutuhkan penanganan komprehensif.
“Anak ini memerlukan fisioterapi. Tapi tidak cukup hanya itu, perlu dokter ortopedi, spesialis gizi klinis, saraf, rehabilitasi medis, hingga psikolog,” terangnya.
Arif menjelaskan, faktor emosional juga perlu mendapat perhatian.
“Usianya menjelang remaja, emosinya sering tidak terkontrol, sehingga butuh pendampingan psikolog,” tambahnya.
Jurnalis: Fahtur Rohman
Editor: Ulfa






























