SALATIGA, Lingkarjateng.id – Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pembangunan Taman Wisata Religi (TWR) DPRD Kota Salatiga, Yusuf Wibisono, mengungkapkan bahwa proses pembahasan terkait proyek TWR baru mencapai sekitar 40 persen. Untuk mendalami proyek tersebut, Pansus akan melanjutkan pendalaman dengan sejumlah pihak terkait, termasuk Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) serta Inspektorat.
“Kesimpulan sementara kami baru sekitar 40 persen, belum tuntas. Karena kami belum ketemu dengan pihak lelang, PBJ. Kami juga belum bertemu dengan Inspektorat untuk mengetahui apakah ada temuan atau hasil pengawasan terkait proyek ini,” jelas Yusuf, Kamis, 30 Oktober 2025.
Menurutnya, Pansus sempat menunda agenda lapangan lantaran berbenturan dengan jadwal kegiatan anggota dewan lainnya. Padahal, kunjungan lapangan dijadwalkan untuk menindaklanjuti berbagai masukan dari masyarakat dan mahasiswa terkait kualitas pembangunan TWR.
“Sebetulnya kalau hari ini selesai, besok pagi kami mau ke lapangan. Tapi karena ada rapat lain, terpaksa ditunda. Waktu kami masih panjang, sampai 29 Maret 2026, jadi masih bisa kami lanjutkan,” ujarnya.
Yusuf juga menuturkan, Pansus turut memantau berbagai sorotan publik terkait pembangunan TWR, termasuk yang ramai dibicarakan di media sosial. Ia menyebut sejumlah warga mempertanyakan kualitas struktur bangunan, terutama pada bagian besi yang disebut berbeda ukuran.
“Kami juga melihat dari TikTok dan media sosial lain, banyak masyarakat bertanya soal besi yang besar kecil. Nah, hal-hal seperti itu akan kami dalami, apakah memang sesuai aturan teknis atau tidak. Setelah kami tanyakan ke DPUPR, ternyata sudah sesuai spesifikasinya,” terangnya.
Selain memanggil PBJ dan Inspektorat, Pansus juga berencana meninjau langsung ke lokasi proyek bersama pihak Dinas PUPR untuk memastikan kondisi di lapangan sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan.
“Dari Dinas PUPR sudah dijelaskan bahwa setelah masa pemeliharaan enam bulan, nanti baru diserahkan ke pengelola. Jadi, kami ingin memastikan tahapan itu berjalan sesuai ketentuan,” pungkasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Sekar S































