Menjanjikan, Warga Pohgading Pati Didorong Produksi Tepung Mocaf

Menjanjikan,-Warga-Pohgading-Pati-Didorong-Produksi-Tepung-Mocaf

ANTUSIAS: Ibu-ibu warga Desa Pohgading, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati tampak antusias mengikuti pelatihan pembuatan tepung Mocaf. (Arif Febriyanto/Lingkarjateng.id)

PATI, Lingkarjateng.id – Desa Pohgading, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati mempunyai potensi yang perlu dimanfaatkan, yaitu tanaman singkong. Guna memanfaatkan dan mengembangkan potensi yang ada di Desa Pohgading, Komunitas Wanita Payak Sukses (Wapas) mengadakan pelatihan pengembangan potensi masyarakat desa, Rabu (13/7). Kali ini Komunitas Wapas mengadakan pelatihan pembuatan tepung Mocaf.

Pelatihan pembuatan tepung Mocaf ini dilaksanakan selama dua hari di Balai Desa Pohgading pada tanggal 13 Juli hingga 14 Juli yang diikuti oleh ibu-ibu perwakilan dari masing-masing RT Desa Pohgading.

Eka Pulihati selaku Pimpinan Komunitas Wanita Payak Sukses (Wapas) yang juga seorang pengajar, melatih ibu-ibu untuk membuat tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) dengan menggunakan bahan dasar singkong.

Tepung Mocaf kemudian diolah menjadi makanan yang beraneka ragam. Tepung Mocaf ini digunakan sebagai pengganti tepung terigu. Eka berharap, dengan adanya pelatihan ini dapat memberdayakan masyarakat desa untuk lebih mandiri dan pandai wirausaha khususnya ibu-ibu.

Perlu diketahui, pelatihan pembuatan tepung Mocaf yang diadakan oleh Komunitas Wanita Payak Sukses (Wapas) merupakan kerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Kabupaten Pati.

“Mocaf bahan bakunya dari singkong, untuk pembuatan tepung dan olahan makanan. Ini kerja sama dengan Dispermades. Ibu-ibu diajari membuat tepung dengan bahan baku singkong. Kegiatan ini selama 2 hari diikuti dengan ibu-ibu perwakilan RT,” tutur Eka.

Selain karena tanaman singkong menjadi primadona yang banyak ditanam oleh warga Desa Pohgading, keprihatinan Eka justru tertuju karena para warga hanya menjual hasil panen singkong tanpa diolah. Kalau pun diolah, rata-rata warga mengolah singkong menjadi keripik singkong, sehingga nilai ekonomi hasil olahan tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan pembuatan tepung mocaf yang dinilai lebih mahal dan menjanjikan. Dalam pelatihan ini, ibu-ibu juga dibekali dengan beberapa peralatan seperti alat potong dan ember.

“Karena potensi desa di sini banyak singkong. Jadi, belum pernah mengenal tepung mocaf. Ternyata banyak singkong yang hanya dijual mentah atau dibuat keripik,” imbuhnya.

Eka mengaku siap jika diminta untuk memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat desa. Hal ini karena, tambahnya, seringkali perangkat desa maupun warga tidak mengetahui tentang program pelatihan masyarakat desa.

“Desa ini (Pohgading) juga mengajukan proposal ke Dispermades. Kalau misalnya desa itu mengundang kami dengan Dana Desa, kami siap. Kadang desa lain itu tidak tahu kalau ada progran pelatihan masyarakat. Saya sampaikan kalau itu tidak sulit, minta saja pelatihan apa, karena kami juga kerja sama dengan Dispermades,” tutupnya. (Lingkar Network | Arif Febriyanto – Lingkarjateng.id)