Marak Isu LGBT di Citayam Fashion Week, Jepara Siapkan Antisipasi

Marak Isu LGBT di Citayam Fashion Week, Jepara Siapkan Antisipasi

POTRET: Kabid Penegakan Perundang-undangan, Ketertiban Umum, dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP Jepara, Abdul Khalim. (Muslichul Basid/Lingkarjateng.id)

JEPARA, Lingkarjateng.idFenomena Citayam Fashion Week (CFW) mulai merambah ke daerah-daerah, tak terkecuali di Kabupaten Jepara yang baru-baru ini ikut viral dengan video dari salah rumah mode yang promosi dengan cara menggelar fashion show di jalanan.

Aksi ini memancing ribuan reaksi warganet yang ikut geram melihat kelakuan tiga wanita yang berjalan lenggak-lenggok di jalan raya. Muncul kekhawatiran aksi tersebut menular dan menyebabkan gangguan lalu lintas.

Menanggapi unggahan video tersebut, Kepala Bidang Penegakan Perundang-undangan, Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat pada Satpol PP Jepara Abdul Khalim menyebutkan, fenomena tersebut berpotensi besar mengganggu ketertiban dan rawan disusupi perilaku menyimpang, seperti halnya yang terjadi dalam CFW di Jakarta.

Menurut Khalim, tidak menutup kemungkinan dampak negatif yang ada di CFW akan merambah ke Kabupaten/Kota karena sudah menjadi tren. Selain mengganggu ketertiban, juga berpotensi terjadi penyimpangan seksual, berupa lahirnya Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) yang kian merebak.

Untuk mengantisipasi hal ini, pihaknya akan melakukan penertiban dan juga telah berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk bersinergi untuk mencegah gangguan ketertiban umum. 

Di sisi lain, pihak Satpol PP Jepara telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, dan mendapat fakta bahwa perilaku penyimpangan seksual bisa meluas jika dibiarkan.

“Hal itu sudah kami sampaikan langsung kepada Dinas Kesehatan. DKK meng-iya-kan bahwa perilaku penyimpangan LGBT dan Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) berpotensi untuk ditiru masyarakat di daerah apabila dibiarkan. Karena itu kami koordinasikan juga dengan dinas-dinas terkait untuk pencegahan,” terangnya.

Ia menambahkan, saat ini Kabupaten Jepara menduduki peringkat 3 tertinggi dalam hal penyebaran HIV/AIDS se-Jawa Tengah. Penularan HIV terbesar terjadi pada hubungan lelaki seks dengan lelaki (LSL), di samping pengguna narkotika jarum suntik dan Pekerja Seks Komersial (PSK).

“Untuk masalah kaum homoseksual ini yang sulit kami tanggulangi karena sifatnya terdeteksi petugas,” imbuhnya.

Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama lintas sektor dalam menekan perilaku tersebut agar tidak merusak generasi bangsa dan tentunya sebagai upaya pencegahan dini penularan HIV/AIDS. (Lingkar Network | Muslichul Basid – Koran Lingkar)

Exit mobile version