Berkah Idul Adha, Napi Lapas Semarang Putuskan Jadi Mualaf

BERSYAHADAT: Yosia (27) dibantu oleh Ustadz Thohir Khusnan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai bagian dari proses masuk Islam. (Adimungkas/Lingkarjateng.id)

BERSYAHADAT: Yosia (27) dibantu oleh Ustadz Thohir Khusnan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai bagian dari proses masuk Islam. (Adimungkas/Lingkarjateng.id)

SEMARANG, Lingkarjateng.id – Yosia (27), warga binaan Lapas Kelas 1 Semarang memutuskan menjadi mualaf saat Idul Adha. Ia mengatakan, niat bulatnya ini merupakan panggilan hati dan tak ada intervensi dari pihak lain.

Ia mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid At-Taubah Lapas Kelas 1 Semarang dengan dipandu oleh Ustadz Thohir Khusnan dari Semarang.

Yosia mengaku masuk Islam lantaran merasa sejuk dan nyaman, karena para penghuni kamar binaan rajin sholat berjamaah dan baca alQuran. Kesejukan itu pun sudah ia rasakan sejak lama. Sehingga ia memutuskan untuk menjadi mualaf.

“Saya sudah sedikit belajar agama ini dan cara ibadahnya. Karena teman-teman sesama warga binaan di kamar hunian rajin sholat berjamaah,” terangnya.

Yosia tercatat sebagai warga Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Ia terjerat kasus Undang-Undang Kesehatan dan masih menunggu putusan dari Pengadilan Negeri Semarang. 

Yosia juga mengubah namanya menjadi Muhammad Anton Saputra, sesuai keputusan dan saran dari narapidana serta saksi yang hadir.

 Mendekati waktu sholat wajib, ia diajarkan berwudhu oleh ustadz yang memandunya mengucapkan dua kalimat syahadat.  

Meski terbata-bata, dirinya tetap berjuang agar lidah yang kaku tersebut, mampu mengucapkan kalimat suci yang disaksikan oleh petugas dan sejumlah napi lainya. 

Menanggapi adanya napi yang mualaf. Kalapas Semarang mengaku senang mendengar kabar tersebut. Ia menyebut tidak ada paksaan untuk masuk Islam.

“Dengan harapan mualafnya narapidana tersebut harus benar dari hati dan tidak dijadikan asas manfaat dan bukan suatu modus,” ucapnya.

Ia meminta bagi napi yang mualaf untuk mempelajari Islam secara kaffah dan tidak setengah-setengah. 

“Semoga para mualaf ini bisa menjadi muslim yang taat dan tetap istikamah,” pungkasnya. (Lingkar Network | Adimungkas – Koran Lingkar)