Akibat Pandemi, Kunjungan Wisatawan ke Gunung Rowo Pati Turun Drastis

POTRET: Gapuro destinasi wisata Waduk Gunung Rowo di Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. (Arif Febriyanto/Lingkarjateng.id)

POTRET: Gapuro destinasi wisata Waduk Gunung Rowo di Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. (Arif Febriyanto/Lingkarjateng.id)

PATI, Lingkarjateng.id Objek wisata Kabupaten Pati, Waduk Gunung Rowo yang berada di Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong kini sepi wisatawan. Angka turunnya wisatawan yang mengunjungi wisata ini, nampak usai pandemi Covid-19 yang sempat melanda.

Dari pantauan Lingkarjateng.id, hanya ada beberapa pengunjung yang mengunjungi wisata tersebut. Hal itu berdampak pada pendapatan dari para pedagang yang menjual dagangannya di lokasi wisata.

Salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya mengaku, dampak penurunan wisatawan berimbas pada omsetnya.

“Kalau dulu ya ramai, bisa dapat Rp2.000.000. Satu keluarga makan-makan di sini. Tapi sekarang, cukup ramai pas hari Minggu saja. Kalau hari biasa ya disyukuri saja kalau ada yang beli,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh petugas objek wisata Gunung Rowo, Muhammad. Ia mengungkapkan bahwa objek wisata Gunung Rowo saat pandemi Covid-19 mulai turun.

“Yang dulu-dulu ‘kan ramai. Kalau sekarang ‘kan anak-anak sudah dewasa. Kalau dulu (anak-anak) SMP sering ke sini. Kalau sekarang ‘kan sudah pada dewasa,” imbuhnya.

Dengan tiket masuk Rp5.000 per orang, lanjut Muhammad, bisa mengumpulkan uang sekitar Rp200.000-Rp500.000 per hari. Akan tetapi, jumlah tersebut tidak bisa dipastikan sepenuhnya mengingat sepinya pengunjung.

Meski begitu, kata dia, pada saat libur sekolah ada sedikit kenaikan jumlah pengunjung yang didominasi rombongan keluarga.

“Kalau hari biasa dan hari libur sama saja. Ada peningkatan itu pun sedikit. Pendapatan ya tergolong biasa-biasa saja. Untuk satu minggu paling rendah mencapai Rp3.000.000-Rp5.000.000. Kalau dalam sehari jika sepi bisa mencapai Rp200.000-Rp500.000. Tidak bisa dipastikan, kalau sekarang ‘kan orang tua hanya makan siang saja,” pungkasnya. (Lingkar Network | Arif Febriyanto – Lingkarjateng.id)