KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) masih terus berupaya mencari solusi atas longsornya jalan alternatif Ungaran-Demak di Dusun Bandungan, Desa Kalongan.
Longsor yang terjadi sejak 2022 tersebut telah menyebabkan jalan berubah menjadi jurang curam yang tidak dapat dilalui kendaraan.
Kepala DPU Kabupaten Semarang, Valeanto Soekendro, mengungkapkan bahwa koordinasi tengah dilakukan dengan berbagai instansi pusat dan provinsi guna menemukan solusi terbaik.
Pihaknya pun telah berkonsultasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah hingga Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
“Sampai saat ini kami masih terus berkoordinasi mencari solusi terbaik untuk mengatasi longsoran di Desa Kalongan itu dengan sejumlah instansi, baik pusat dan provinsi,” ujarnya, Selasa, 14 Oktober 2025.
Kendro menjelaskan bahwa berdasarkan kajian, longsor tersebut dipicu oleh adanya sumber mata air besar di bawah titik longsor yang menjaga kelembaban tanah sehingga memicu pergeseran tanah.
Menurutnya, kondisi tanah di lokasi masih terus bergerak meskipun tidak separah yang pernah terjadi di tahun 2023.
“Karena masih adanya sumber mata air yang besar di titik bawah longsoran itu, maka tanahnya pun masih akan bergerak sekitar 100 sampai dengan 150 meter,” jelasnya.
Kendro menegaskan bahwa penanganan longsor seluas 31,5 hektare dengan tinggi sekitar 75 meter dan kemiringan 67 derajat ini hanya dapat dilakukan oleh pemerintah pusat.
Untuk menjaga keselamatan warga, akses jalan tersebut sudah ditutup bagi masyarakat umum dan dialihkan ke jalur lain.
“Kami coba alihkan akses jalan itu ke jalur lainnya, supaya tidak membahayakan warga yang melintas. Meski memang berdekatan dengan permukiman warga, kami selalu coba imbau ke warga untuk tidak mendekat atau mencoba melewati jalan tersebut, karena memang berbahaya,” kata Kendro.
Meski begitu, ia mengungkapkan masih banyak warga bahkan anak-anak yang mencoba bermain atau beraktivitas di sekitar lokasi jalan tersebut.
Oleh karena itu, pihaknya berencana menutup jalan secara permanen demi menghindari risiko kecelakaan.
“Rencananya kami akan tutup secara permanen, karena memang berbahaya, kami tidak ingin ada korban sehingga harus segera ditutup secara permanen,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, menambahkan bahwa fenomena tanah bergerak tidak hanya terjadi di Desa Kalongan, tetapi juga di beberapa titik lain di wilayah Kabupaten Semarang seperti Dusun Sedono, Desa Genting, Kecamatan Jambu.
Alex menyatakan kondisi longsor di Kalongan sudah tidak lagi dalam status darurat akut, melainkan memasuki tahap rehabilitasi konstruksi.
“Dengan demikian, kami masih melakukan langkah-langkah rekonstruksi, rehabilitasi atau alternatif lain yang memang paling tepat untuk mengatasinya, meski jalan alternatif di Kalongan itu tidak memungkinkan diperbaiki, tapi ada langkah antisipasi yang dilakukan,” jelasnya.
Salah satu langkah antisipasi yang diterapkan adalah pemasangan Early Warning System (EWS) sebagai alat peringatan dini kepada masyarakat terhadap potensi longsor susulan yang masih mungkin terjadi.
“Karena memang longsor susulan di lokasi tersebut tidak bisa dielakkan, dan masih terus terjadi,” pungkasnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Rosyid































