Blora (lingkarjateng.id) – Anggaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Blora (DPUPR) tahun ini tercatat sebesar Rp60 miliar. Anggaran tersebut telah mencakup belanja pegawai serta kebutuhan operasional kantor.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPUPR Blora, Nizamudin Al Huda, mengatakan dari total Rp60 miliar itu, alokasi terbesar berada pada bidang Bina Marga atau infrastruktur jalan, yakni sebesar Rp27 miliar.
“Total Rp60 miliar itu sudah termasuk gaji. Untuk Bina Marga Rp27 miliar,” kata Huda, Rabu (25/02/2026).
Selain Bina Marga, anggaran juga dialokasikan untuk sejumlah bidang lain, meliputi Sumber Daya Air (SDA) sebesar Rp1,9 miliar, Tata Ruang Rp1 miliar, pembangunan gedung Rp14 miliar, air minum Rp600 juta, serta sanitasi Rp500 juta.
“Belanja pegawai tercatat sebesar Rp13 miliar, dengan rincian Rp11 miliar untuk gaji pegawai dan sisanya untuk operasional kantor,” terangnya.
Menurut Huda, alokasi pembangunan gedung yang mencapai Rp14 miliar tergolong cukup besar karena dipengaruhi pekerjaan urukan untuk program sekolah rakyat yang saat ini masih dalam proses pelaksanaan.
Dari total Rp27 miliar anggaran Bina Marga, sejumlah kegiatan telah berjalan. Di antaranya penanganan longsoran di ruas Randu–Getas senilai sekitar Rp700 juta, serta pengecoran proyek peningkatan ruas jalan Turirejo–Palon–Nglobo senilai Rp1,19 miliar.
“Proyek jalan kabupaten tersebut dikerjakan oleh CV Meteor Jaya dengan pengawasan CV Karya Inti Konsultan, bersumber dari APBD Kabupaten Blora, selain pekerjaan rutin infrastruktur jalan lainnya,” ujarnya.
Ia berharap anggaran infrastruktur tersebut dapat mendukung peningkatan kualitas jalan serta sarana dan prasarana publik di Kabupaten Blora sepanjang tahun anggaran berjalan.
Berdasarkan data DPUPR Blora, tingkat kemantapan jalan kabupaten saat ini baru mencapai 69 persen. Artinya, masih terdapat 31 persen atau sekitar 270 kilometer ruas jalan dalam kondisi rusak, baik ringan maupun berat.
Menurutnya, ruas jalan yang belum mantap masih membutuhkan penanganan melalui perbaikan struktural, termasuk penggunaan alat berat dan aspal panas. “Jalan yang dalam kondisi baik secara keseluruhan baru mencapai 69 persen,” ujarnya.
Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak ruas jalan yang membutuhkan perhatian serius, terutama di wilayah perkotaan yang dilalui kendaraan sumbu tiga keatas, dengan intensitas lalu lintas tinggi.***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Fian































