BLORA, Lingkarjateng.id – Kabar duka menyelimuti Sedulur Sikep di Kabupaten Blora. Sesepuh Sedulur Sikep Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Mbah Lasiyo, wafat pada Kamis, 20 November 2025 pukul 19.16 WIB di usia 65 tahun.
Lahir pada 4 Mei 1960 di Desa Klopoduwur, Mbah Lasiyo menghembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit di Semarang. Rencananya, ia dimakamkan pada Jumat, 21 November 2025 setelah Salat Jumat di pemakaman desa setempat.
Mbah Lasiyo sebagai Sesepuh Sedulur Sikep di Blora
Mbah Lasiyo merupakan keturunan langsung dari Suro Samin (Mbah Engkrek), murid setia Samin Surosentiko dan penyebar ajaran Sedulur Sikep di Blora. Sebagai penerus garis keturunan tersebut, beliau memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian nilai, filosofi, dan gaya hidup Samin yang diwariskan turun-temurun.
Ajaran Saminisme sendiri pertama kali berkembang di Klopoduwur melalui Samin Surosentiko (lahir 1859), yang dikenal karena perlawanan damainya terhadap pemerintah kolonial Belanda. Setelah beliau ditangkap dan diasingkan, ajaran diteruskan oleh Mbah Engkrek hingga kemudian diwariskan kepada generasi penerus seperti Mbah Lasiyo.
Semasa hidup, Mbah Lasiyo menjadi tokoh sentral dalam meneruskan ajaran Sikep Samin kepada masyarakat Karangpace. Nilai-nilai tersebut terangkum dalam dua pedoman utama:
Panca Wewaler Sikep Samin
- Tresna pepadhane urip: Menghormati sesama makhluk hidup.
- Ora nerak wewalerane negara: Tidak melanggar aturan negara.
- Ora nerak sing dudu sakmesthine: Mematuhi norma yang semestinya.
- Ora cidra ing janji: Tidak ingkar janji.
- Ora sepoto nyepatani: Tidak saling mengutuk atau menyumpahi.
Panca Sesanti Sikep Samin
- Seduluran: Menjunjung persaudaraan.
- Ora seneng memungsuhan: Tidak suka bermusuhan.
- Ora seneng rewang kang dudu sakmestine: Tidak membantu hal-hal yang tidak baik.
- Aja ngrenah liyan: Tidak memfitnah orang lain.
- Eling sing kuwasa: Selalu ingat kepada Tuhan.
Mengenal Desa Klopoduwur
Desa Klopoduwur terletak di kawasan hutan jati dengan kondisi tanah yang tergolong gersang. Dulu, masyarakat Sedulur Sikep mengalami kesulitan air bersih dan harus menempuh jarak sekitar empat kilometer untuk mengambil air dari embung.
Mbah Lasiyo pernah mengenang masa-masa sulit tersebut. Ia bercerita bahwa sebelum adanya bantuan tower air, warga harus mengangkut air menggunakan dirigen, bahkan pada era 1970-an masih dilakukan dengan berjalan kaki. Barulah pada 1980-an sepeda motor mulai digunakan.
Bantuan pembangunan tower jaringan air bersih yang diberikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kala Gubernur Ganjar Pranowo itu menjadi titik balik bagi warga Sikep. Air kini dapat mengalir langsung melalui pipa dan kran ke rumah-rumah warga.
“Air sekarang bisa langsung mengalir. Ada 73 kepala keluarga di sini, semua terbantu,” ujar Mbah Lasiyo dalam salah satu kesempatan.
Air bersih tidak hanya mencukupi kebutuhan masak, minum, mandi, dan mencuci, tetapi juga untuk memelihara ternak. Setiap rumah memiliki sedikitnya tiga ekor kambing yang membutuhkan air dua kali sehari.
“Sekarang warga bisa dibilang ‘mewah’ soal air,” ungkapnya.
Menurut Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah melalui Kepala Cabang ESDM Kendeng Selatan, Teguh Yudi Pristiyanto, instalasi air bersih di Karangpace menggunakan sumber air dari Embung Kedungsambi, sekitar 1,5 km dari tandon.
Air yang dipompa melalui penurapan telah difilter, dengan mesin berkapasitas debit 5 liter/detik. Hanya dalam satu jam, tandon sudah dapat terisi penuh. Pompa bekerja otomatis setiap enam jam sekali, memastikan suplai air selalu tersedia bagi warga.





























