PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Jumlah pengungsi banjir di Kabupaten Pekalongan terus menunjukkan tren penurunan signifikan. Berdasarkan data terbaru Selasa, 17 Februari 2026, total pengungsi yang masih bertahan di lokasi pengungsian tercatat 259 jiwa dari 93 kepala keluarga (KK) yang tersebar di tujuh pos pengungsian.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Agus Pranoto, mengatakan ratusan pengungsi tersebut masih bertahan karena kondisi rumah dan lingkungan belum sepenuhnya aman untuk ditempati pasca banjir.
“Update hari ini, Selasa 17 Februari, total pengungsi masih 259 jiwa. Sebagian besar warga sudah kembali ke rumah, namun masih ada yang bertahan karena kondisi rumah belum layak dan perlu pembersihan,” kata Agus, Selasa, 17 Februari 2026.
Ratusan pengungsi tersebut tersebar di sejumlah lokasi, antara lain TPQ Nurul Islam Mulyorejo dengan 40 jiwa dari 20 KK, Mushola Amman Rowoyoso sebanyak 74 jiwa dari 23 KK, serta Lokatex yang menampung 53 jiwa dari 18 KK. Selain itu, pengungsian juga berada di Kecamatan Siwalan (6 jiwa), Mushola Baitul Muttaqin Wira Baru 3 (25 jiwa), TK Bakti Pertiwi Pesanggrahan (32 jiwa), dan SD Karang Jompo (29 jiwa).
Imbas Hujan, Banjir Kembali Rendam Sejumlah Wilayah Kabupaten Pekalongan
Dari total 259 jiwa tersebut, terdiri atas 99 laki-laki dan 160 perempuan. Agus menyebut, wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak masih berada di kawasan terdampak parah, khususnya di Kecamatan Tirto dan sekitarnya.
BPBD bersama pemerintah kecamatan, desa, serta unsur relawan masih melakukan pemantauan dan pendampingan intensif di lokasi terdampak banjir. Selain itu, warga juga diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.
“Kami mengingatkan masyarakat agar tetap siaga, karena potensi hujan dengan intensitas tinggi masih bisa terjadi di wilayah Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.
Sebagai catatan, pada puncak banjir yang terjadi 18 Januari 2026, jumlah pengungsi di Kabupaten Pekalongan sempat mencapai 2.061 jiwa.
“Seiring surutnya genangan dan membaiknya kondisi cuaca, jumlah pengungsi terus berangsur menurun hingga menyisakan ratusan jiwa menjelang bulan suci Ramadhan,” pungkas Agus.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, Yulian Akbar, memastikan operasional dapur umum bagi pengungsi banjir tetap berjalan hingga masa tanggap darurat berakhir.
“Intinya tadi kan memastikan di dapur umum kita akan siapkan sampai masa darurat bencana, sampai 23 Februari ya, untuk para pengungsi. Kita pastikan aman sampai tanggal 23 Februari,” kata Yulian Akbar.
Ia menegaskan, meskipun jumlah pengungsi terus menurun, hingga saat ini masih terdapat warga yang bertahan di tujuh titik lokasi pengungsian. Pemerintah daerah pun memastikan distribusi logistik tetap berjalan.
“Karena masih ada tersisa di tujuh titik, di tujuh titik nanti malam ini juga nanti akan kirim logistik,” ujarnya.
Selain penanganan di lapangan, Yulian Akbar menyebut pemerintah daerah saat ini juga masih memfokuskan perhatian pada penyesuaian anggaran belanja untuk mendukung penanganan dampak banjir.
“Kami sekarang masih fokus untuk berkaitan dengan pergeseran anggaran belanja, yang pergeseran ini yang masih kami fokuskan,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar S




























